PIDIE – Dalam rangka melestarikan seni tradisional Aceh yang sudah lama dilupakan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pidie melatih para guru prakarya tingkat SMP se-Pidie, dalam pembuatan kupiah meukutop khas Pidie.
Pj Ketua Dekranasda Pidie Suaidah Sulaiman mengatakan, pelatihan tersebut bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pidie yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan tujuan untuk melestarikan peninggalan budaya Aceh sejak zaman dulu agar dapat terus mempertahankannya.
“Puluhan guru tersebut kita latih selama empat hari, agar nantinya mereka mampu meneruskannya untuk semua siswa di sekolah masing-masing,” kata Suaidah dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/4/2023).
Lebih lanjut, Suaidah menyampaikan, langkah Ini merupakan salah satu upaya Pemkab Pidie dalam membekali pengetahuan keterampilan yang bernilai ekonomis dan juga karya yang berasal dari daerah sendiri.
Oleh karena itu, sebagai anak muda dan juga sebagai penerus generasi kedepan, harus peduli terhadap aset daerahnya, sehingga tidak mudah direbut oleh orang lain.
“Maka kita kenalkan produk lokal yang sudah dikenal hingga ke Mancanegara. Jika tahapan ini berhasil, akan dibentuk paguyuban yang bisa menghasilkan karya-karya lain,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal mengatakan, mengapresiasi dan mendukung pelaksanaan pelatihan tersebut, pasalnya memang sangat bermanfaat bagi generasi muda, sehingga mereka tidak hanya di pengaruhi dengan bermain gadget saja.
“Tidak sekedar kerajinan yang menghasilkan materi tetapi ada nilai-nilai moral untuk membangun masyarakat Pidie seperti filosofi kupiah yang sangat bermakna,” kata Almuniza.
Saat ini, Kata Almuniza, banyak generasi muda yang mulai luntur kepedulian mereka terhadap budaya, hal tersebut disebabkan dengan kesibukan terhadap smartphonenya, game online, hingga terjerumus narkoba.
Menurutnya, sangat begitu penting pelatihan keterampilan ini dilakukan, karena dinilai dapat bermanfaat sebagai pembekalan masa depan generasi muda dengan menghasilkan berbagai karya seni seperti kupiah riman, kupiah meukeutop, tikar anyaman, kasab, gerabah, serta aneka kuliner khas yang harus diajarkan.
“Sibukkan mereka dengan berbagai inovasi, pengetahuan keterampilan dan budaya bangsa. Agar mereka tidak melupakan budaya Aceh, dan pada akhirnya dapat diwarikan pada anak dan cucu kita kedepan,” Pungkasnya.

Makna Dari Kupiah Meukeutop
Kupiah meukeutop merupakan topi tradisional yang berasal dari Aceh. Topi ini umumnya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat bagi kaum pria ketika sedang mengikuti upacara adat maupun seremonial lainnya. Bagi masyarakat Aceh, kupiah meukeutop tidak hanya bernilai dari segi adat, namun juga penuh dengan nilai sejarah. Kupiah meukeutop ini lebih diindentikkan dengan topi kebesaran yang kerap dipakai oleh Teuku Umar, yaitu pahlawan nasional asal Provinsi Aceh.
Namun jika dilihat dari foto-foto para tokoh pahlawan asal Aceh, tidak hanya Teuku Umar yang memakai kupiah. Panglima Polem (1845-1879) pun juga memakai hal serupa. Bahkan kupiah yang dipakai oleh Sultan Muhammad Daud Syah dan juga Panglima Polem lebih menyerupai kupiah meukeutop yang ada seperti saat ini. Baik itu dari bentuk maupun motifnya.
Kupiah meukeutop terbuat dari bahan kain yang berwarna dasar merah dan kuning. Kain dirajut menjadi satu, berbentuk lingkaran. Pinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman yang dikombinasikan dengan warna hitam, hijau, merah dan juga kuning. Anyaman serupa terdapat dibagian tengah, yang dibatasi dengan lingkaran kain hijau dibagian atasnya dan kain hitam dibagian bawah.
Pada lingkaran kepala bagian bawah, ada motif yang lebih dominan, yaitu berbentuk “lam” di dalam huruf hijaiyah. Namun terdapat garis yang menyambung diantara bagian bawah dan bagian atas motif tersebut. Motif yang sama juga ada di lingkaran kepala dibagian atas. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Pada bagian paling atas, ada rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas, bertingkat tiga. Warna yang digunakan mempunyai makna tersendiri.













