Mengenal Tudung Sange, Tudung Saji Khas Adat Budaya Aceh

sange
Tudung sange khas Aceh (Foto: Istimewa)

BANDA ACEHTudung Sange merupakan tudung saji khas Aceh yang biasanya digunakan pada acara-acara tertentu, seperti menjadi penutup makanan atau penutup barang-barang hantaran pernikahan sesuai dengan adat dan budaya Aceh. Tak jarang sange juga digunakan sebagai penutup makanan kenduri maulid yang dibawa ke meunasah maupun masjid.

Hal tersebut, dikatakan langsung oleh seorang pengrajin pembuatan tudung sange atau tudung saji khas Aceh, Cut Maneh, yang beralamat di Gampong Lambate, Simpang Tiga, Aceh Besar, Rabu (19/04/2023).

Cut Maneh mengatakan, tutup saji khas Aceh itu dibuat dengan menggunakan daun nipan serta dibungkus dengan kain beldu, namun dengan warna yang mencolok seperti kuning, merah dan hijau, di sekeliling sange juga dihiasi dengan manik-manik atau payet cantik berbentuk motif khas Aceh seperti pinto Aceh dan berbagai motif bunga.

“Sange, ini kita pasarkan di sekitaran Aceh Besar dan Banda Aceh seperti pasar Aceh dan daerah Lambaro serta toko-toko souvenir. Dalam dua hari dapat memproduksi 10 buah produk untuk saat ini,” kata Cut Maneh kepada situasi.co.id, Rabu (19/04/2023).

Dikatakannya, dirinya menekuni usahanya itu sejak tahun 2012, ia membuka usahanya karena saat itu mengalami kesulitan ekonomi, sehingga memutar otak untuk mencari penghasilan agar memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu suaminya.

BACA JUGA:   Tingkatkan Kepercayaan Publik, Wakapolda Aceh Hadiri Rapat Anev Quick Wins Presisi

“Kebetulan orang tua merupakan pengusaha tudung saji sehingga ikut mencoba membuat tudung saji, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Kemudian saya belajar membuat tudung sange. Sebelumnya saya melakukan pemasaran dengan pergi ke gampong-gampong di Aceh Besar dan Banda Aceh, berkeliling untuk menjajakan dagangan saya setiap harinya, barulah malamnya memproduksi tudung sange,” katanya.

Dengan kerja keras tersebut dan hanya bermodalan Rp 500 ribu, kini ia sudah meraup keuntungan sekitar Rp 7 juta per bulan, serta jumlah karyawan yang dipekerjakan olehnya sudah mencapai 7 orang.

“Kalau tudung sange yang dijual dari harga Rp75 ribu hingga Rp170 ribu, sesuai motif yang diinginkan, jika simple maka harga akan lebih murah, motif berbeda-beda namun paling best seller ialah pinto Aceh,” ucapnya.

sange
Tudung sange khas Aceh (Foto; Istimewa)

lebih lanjut, ia mengatakan, untuk memasarkan hasil produknya dirinya memanfaatkan media sosial baik Instagram maupun Tiktok. Namun, karena belum memiliki banyak pengikut dan penonton, hal tersebut juga menjadi kendala baginya.

BACA JUGA:   Hebat! Penyandang Disabilitas ini Produksi Kerajinan Anyaman Daun Pandan Bernilai Jual

Ia juga berharap, agar usahanya semakin dikenal oleh masyarakat luar, ia meminta perhatian lebih dari pemerintah atau dinas terkait, dengan cara memperkenalkan produknya pada ajang even-even besar seperti pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 yang akan digelar pada bulan Agustus mendatang.

“Jika dilakukan sendiri sedikit sulit, dengan adanya memperkenalkan produknya melalui berbagai media dan even-even besar Aceh. Oleh karena itu saya berharap kepada pemerintah memberikan perhatian lebih kepada pelaku pengrajin tudung sange. Apalagi ini merupakan adat Aceh dan menjadi kebanggaan bagi kita semua,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah mengatakan, kegiatan produksi tudung sange ini perlu kita publikasikan ke publik, untuk memotivasi perajinnya, agar mereka bersemagat lagi memproduksi tudung sange.

“Setiap daerah punya perajin tudung sange dan motif bunga berbeda-beda antar daerah. Perbedaan motif itu, sebagai kekayaan budaya Aceh yang menjadikan tudung sange sebagai produk budaya warisan indatu dan yang bernilai budaya dan ekonomis, sehingga kerajinan tersebut tidak ditelan zaman, melainkan berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *