Buaya Muara Berpindah ke Hilir Sungai Desa Sembilan, Ancaman Nyata bagi Nelayan dan mayarakat pesisir. ‎

1000286683
Buaya Muara Berpindah ke Hilir Sungai Desa Sembilan, Ancaman Nyata bagi Nelayan dan mayarakat pesisir, Senin (9/2/2026).Foto:(Ist)

Situasi.co.id | Simeulue –  Keberadaan buaya muara di wilayah Desa Sembilan, Kabupaten Simeulue, kian menimbulkan kekhawatiran. Satwa reptil tersebut dilaporkan tidak lagi bertahan di kawasan hulu sungai dan mulai bergerak ke bagian hilir hingga mendekati pesisir pantai, Senin (9/2/2026).

Pergeseran wilayah jelajah itu diduga kuat dipicu oleh kerusakan ekosistem alami di kawasan sungai. Perpindahan buaya muara ke wilayah hilir dan pesisir dinilai berisiko tinggi karena bersentuhan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Nelayan yang setiap hari menggantungkan hidup di muara sungai dan perairan pantai Desa Sembilan kini berada dalam situasi rawan. Kondisi itu memperbesar potensi konflik antara manusia dan satwa liar yang dapat berujung pada korban jiwa serta terganggunya mata pencaharian warga.

‎Kerusakan lingkungan di kawasan hulu sungai disebut sebagai faktor utama yang mendorong buaya muara keluar dari habitat alaminya. Menyusutnya kawasan mangrove, rusaknya habitat alami, serta perubahan kondisi perairan.

BACA JUGA:   Malam Ini, Kepala BKN Aceh yang Baru Dikukuhkan Pj Gubernur

Hal itu, menyebabkan ruang hidup satwa tersebut semakin terbatas. Akibatnya, buaya kini lebih sering muncul di wilayah yang selama ini menjadi ruang hidup sekaligus ruang kerja masyarakat.

Apabila tidak segera ditangani, situasi ini dikhawatirkan akan berdampak luas. Selain mengancam keselamatan warga, aktivitas nelayan berpotensi terganggu, hasil tangkapan ikan menurun, serta rasa takut berkepanjangan dapat menghantui masyarakat pesisir Desa Sembilan.

‎Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Simeulue bersama pemerintah daerah didesak untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari pemetaan zona rawan kemunculan buaya di sepanjang alur sungai hingga pesisir Desa Sembilan.

BACA JUGA:   Dua Petarung Boxing Putri Pertina Simeulue Menang Telak Dengan Kenangan K.O. di PORA ke-XIV Pidie

Pemasangan papan peringatan di titik-titik rawan, edukasi dan sosialisasi kepada nelayan serta masyarakat pesisir terkait langkah pencegahan, koordinasi dengan BKSDA dan instansi terkait dalam pengawasan serta penanganan termasuk kemungkinan relokasi, hingga upaya pemulihan ekosistem sungai dan mangrove sebagai habitat alami satwa.

‎Konflik antara manusia dan buaya muara tidak hanya berkaitan dengan isu konservasi, tetapi juga menyangkut keselamatan publik dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.

Pemerintah daerah diharapkan tidak menunggu jatuhnya korban jiwa sebelum mengambil langkah penanganan yang tegas, terukur, dan berkelanjutan.

‎Keselamatan nelayan serta warga Desa Sembilan dan masyarakat Simeulue secara luas harus menjadi prioritas utama, seiring dengan upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian satwa liar di Kabupaten Simeulue.

Penulis: Fadlan Ihsan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *