Musim Kemarau, BMKG Imbau Warga Waspada Potensi Karhutla

bmkg
Ilustrasi suhu panas (Foto: Istimewa)

BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut secara umum wilayah Provinsi Aceh sudah memasuki puncak musim kemarau, sehingga beberapa kabupaten/kota di provinsi itu diminta untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Wilayah Aceh sudah mulai memasuki puncak musim kemarau,” kata Prakirawan BMKG Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh Besar Nuria di Banda Aceh, Kamis (28/07/2023).

Saat ini, lanjut Nuria, secara umum cuaca di wilayah Aceh cerah, dengan kelembapan udara yang cukup kering dan sinar ultraviolet yang cukup tinggi dan curah hujan juga cukup rendah.

“Namun, BMKG tidak mendeteksi adanya titik panas atau hotspot di wilayah Tanah Rencong itu sejak Rabu (26/7) kemarin hingga pagi ini,” ujarnya.

BACA JUGA:   Kilang Minyak Milik PT Pertamina Dumai Kembali Terbakar

Menurutnya, jika dilihat dari tingkat kelembapan udara yang cukup kering, BMKG meminta beberapa daerah di Aceh untuk tetap waspada karena berpotensi terjadi karhutla.

Ia menyebutkan, ada delapan wilayan di Aceh yang diharapkan waspada Karhutla yakni Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.

“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada akan adanya potensi karhutla dan diimbau untuk tidak melakukan pembakaran hutan secara sengaja karena dikhawatirkan akan menyebar dengan cepat saat udara cukup kering seperti saat ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk suhu udara di provinsi paling barat Indonesia itu berkisar antara 24 – 35 derajat celsius dan kondisi angin dari arah utara barat daya dengan kecepatan 10 – 20 kilometer per jam.

BACA JUGA:   Personel Polres Bener Meriah Bantu Bersihkan Puing Akibat Angin Puting Beliung

“Sedangkan untuk wilayah Aceh Tengah dan sekitarnya suhu berkisar antara 16 – 28 derajat, dengan kecepatan angin yang sama,” katanya.

Ia mengungkapkan, kondisi curah hujan dan angin kencang masih tetap berpotensi terjadi di tiga daerah di Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Tenggara dan Kota Langsa.

Hal tersebut diakibatkan adanya belokan angin di wilayah Aceh, yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Aceh.

“Sehingga berpotensi terjadi hujan di wilayah ini pada sore dan malam hari,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *