Kerajinan Kasab Aceh Barat, Warisan Budaya Bernilai Ekonomi Yang Terus Dilestarikan

IMG 20260408 WA0034
Kerajinan Kasab Aceh Barat, Warisan Budaya Bernilai Ekonomi Yang Terus Dilestarikan. Foto (ist) Rabu (8/4/2026)

SITUASI.CO.ID | ACEH BARAT – Kerajinan kasab Aceh merupakan salah satu warisan budaya daerah yang memiliki nilai seni tinggi sekaligus bernilai ekonomi. Di Kabupaten Aceh Barat, kerajinan tradisional ini terus dilestarikan oleh para pengrajin lokal, salah satunya melalui usaha yang dirintis sejak tahun 2000 oleh Ny. Ema Mutiara Deka. Rabu (8/4/2026)

Usaha tersebut berawal dari keinginan untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Keterampilan menyulam kasab diperoleh secara turun-temurun dari keluarga yang juga berprofesi sebagai pengrajin.

Dalam proses pembuatannya, kasab Aceh menggunakan bahan utama berupa kain beludru dan kain bridal yang dipadukan dengan benang emas, perak, serta benang warna-warni berkualitas tinggi. Kain beludru dipilih karena mampu memberikan kesan mewah, elegan, serta memiliki daya tahan yang baik terhadap sulaman.

“Proses produksi masih dilakukan secara manual,Tahapan dimulai dari pembuatan motif pada kain, pemasangan kain pada meja kayu, hingga proses penyulaman menggunakan tangan. Waktu pengerjaan bervariasi, mulai dari satu minggu hingga satu bulan, tergantung jenis dan tingkat kerumitan produk,” Ujarnya.

BACA JUGA:   Forum Keluarga Habib Bugak Sesalkan Oknum Coba Palsukan Validitas Pewakaf Tanah Baitul Asyi

­Screenshot 20260408 193859

Motif yang umum digunakan dalam kerajinan kasab Aceh antara lain Pucok Rebung, Pinto Aceh, dan Sulubayung. Setiap motif memiliki makna filosofis, seperti Pucok Rebung yang melambangkan harapan dan pertumbuhan, serta Pinto Aceh yang mencerminkan nilai keterbukaan dan keramahan masyarakat Aceh.

Beragam produk dihasilkan dari kerajinan ini, seperti pelaminan adat, perlengkapan peusijuek, busana, songket, tas, tempat tisu, hingga hiasan dinding. Produk-produk tersebut digunakan untuk kebutuhan adat, dekorasi, hingga cinderamata bagi wisatawan.

Dalam hal pemasaran, produk kasab dipasarkan secara langsung, melalui media sosial, serta pameran budaya. Pasarnya mencakup masyarakat lokal hingga konsumen dari luar daerah.

Meski demikian, pengembangan usaha kerajinan kasab masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan modal, ketersediaan bahan baku berkualitas, serta menurunnya minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi tersebut.

BACA JUGA:   Pj Bupati Simeulue Tanggapi Galian C Tampa Izin

Untuk mengatasi hal tersebut, usaha ini turut melibatkan masyarakat sekitar melalui pembentukan kelompok usaha, sehingga memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi keluarga.

Dukungan juga datang dari Persit Kartika Chandra Kirana Daerah Iskandar Muda yang mendorong keberlanjutan usaha ini melalui berbagai program pemberdayaan.

Pada ajang “Persit Bisa” tahun ini, kerajinan kasab Aceh Barat turut ambil bagian dengan menampilkan inovasi produk serta strategi promosi yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Kegiatan “Persit Bisa” merupakan program pemberdayaan kreatif bagi anggota Persit Kartika Chandra Kirana, yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, mendorong kemandirian ekonomi keluarga, serta mempromosikan produk UMKM dan budaya daerah.

Keikutsertaan kerajinan kasab Aceh Barat dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan daya saing produk lokal agar mampu dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *