BANDA ACEH – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh kembali menggelar Pekan Raya Cahaya Aceh (PRCA) yang berpusat di Taman Bustanussalatin.
Event pameran ekonomi kreatif (Ekraf) tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 10 sampai 12 Maret 2023.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, yang diwakili oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, T Hendra Faisal mengatakan, PRCA kali ini agak berbeda dari tahun yang lalu. Dikarenakan, PRCA kali ini menghadirkan sebanyak enam sub sektor Ekraf unggulan Aceh, setelah sebelumnya hanya menampilkan empat sub sektor Ekraf saja.
“Pekan Raya Cahaya Aceh beberapa waktu lalu menghadirkan ekshibisi enam sub sektor Ekraf unggulan Aceh, yaitu fesyen, kuliner, musik, seni rupa, seni pertunjukkan, dan kriya,” kata Hendra, saat dikonfirmasi oleh wartawan situasi.co.id, Selasa (18/4/2023).
Lebih lanjut, Hendra menjelaskan, PRCA tahun ini turut melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan tujuan untuk meningkatkan public speaking, packaging (pengemasan produk) dan promosi yang baik agar para pelaku Ekraf Aceh mampu bersaing ditingkat nasional.
Selain itu, ia berharap semua event yang termasuk dalam Khazanah Piasan Nanggroe atau Calender Event of Aceh tahun 2023, turut mendorong perekonomian Aceh, dalam membangun jiwa kewirausahaan masyarakat untuk memajukan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, serta demi mewujudkan target 2,5 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2023.
Untuk diketahui, terdapat sekitar 30 booth yang memamerkan produk Ekraf unggulan dari berbagai kabupaten/kota se-Aceh, di antaranya Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Selatan, Nagan Raya, Bener Meriah, Subulussalam, dan Kota Sabang.
Hendra menyebutkan, pada event tersebut berbagai macam produk dijajakan, mulai dari kuliner olahan khas daerah, seperti keripik talas, fesyen, dan kriya unik dari anyaman bambu, pelepah pinang, dan bahan rajut.
“Selain itu, beberapa produk UMKM pun turut meramaikan Pekan Raya tersebut, mulai dari Minyeuk Pret, Ainal Craft, Bitata Food, Martabak Durian Samudera Pasee dan masih banyak lagi,” sebutnya.
Sementara itu, Salah seorang pemilik usaha kerajinan tangan Ainal Craft, dari Desa Lampaloh, Banda Aceh, Ainal Mardhiah mengatakan, bahwa usaha craft buatannya tersebut terbuat dari bahan-bahan daur ulang yang mudah ditemukan, seperti pelepah pinang, batang pisang, bahkan kulit petai lamtoro.
“Dari bahan-bahan daur ulang tersebut, saya dan teman-teman mampu membuat berbagai produk baru yang bernilai jual, seperti tudung saji, kotak tisu, tatakan cangkir, dompet, dan kotak perhiasan. Dan semua produk dibuat dengan tangan tanpa ada alat atau handmade,” ujarnya.

Ia menjelaskan, harga yang dipasarkan pun cukup terjangkau mulai dari Rp10 ribu hingga Rp300 ribu untuk harga tudung saji ukuran besar.
“Produk unggulan kami tudung saji sama kotak tisu,” ucapnya.
Ainal melanjutkan, usaha kerajinan tangan yang dirintisnya sudah lama berdiri sejak tahun 2010 lalu.
“Sebenarnya kita sudah mulai dari tahun 2010, tapi waktu itu kita masih buat pelatihan di desa-desa terutama ibu-ibu yang kena tsunami, sekaligus bekerja sama dengan NGO membuat kerajinan dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar tempat mereka tinggal,” pungkasnya.
Perlu diketahui, usaha kerajinan tangan miliknya telah diekspor ke luar daerah, seperti Jakarta dan Bandung, bahkan pernah dipamerkan di event internasional.













