BANDA ACEH – Stunting dapat dicegah, salah satunya dengan konsumsi protein hewani. Pasalnya, protein hewani merupakan protein yang mempunyai kualitas baik dan juga lebih optimal diserap oleh tubuh.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp. OG (K), melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MHSM saat dijumpai Situasi.co.id di ruang kerjanya, Selasa (12/12/2023).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MHSM menguraikan, bahwa Stunting dapat dicegah antara lain dengan pemenuhan gizi bagi ibu hamil. Lalu pemberian ASI ekslusif selama enam bulan dan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan prinsip gizi seimbang.
“Rekomendasi World Health Organization (WHO) menyarankan, 10-15% asupan energi berasal dari protein hewani untuk tumbuh kejar dan pertumbuhan tulang,” ungkapnya.
dr. Sulasmi menerangkan, protein hewani merupakan protein yang mempunyai kualitas sangat baik. Ditandai dengan digestible indispencable amino acid score (DIAAS) > 100. Artinya, protein hewani lebih optimal diserap oleh tubuh dan mengandung asam amino essensial (AAE) yang lebih mudah diserap daripada protein nabati.

Kendati demikian, dr. Sulasmi menjelaskan, bahwa fungsinya, untuk mendukung pertumbuhan sel dan memperkuat daya tahan tubuh. Kemudian, membangun otot, mendukung metabolisme dan sebagai sumber energi.
“Sumber protein hewani meliputi daging, telur, susu, ikan, seafood dan produk hasil olahannya,” tambahnya.
Selain itu, lanjut dr. Sulasmi, bahwa porsi makan untuk asupan protein hewani perlu disesuaikan. Untuk porsi makan pada anak sesuai dengan slogan ‘isi piringku’. Dimana, 30% nya adalah lauk hewani.
Sedangkan untuk pembagian porsi per usia perharinya, ungkap dr. Sulasmi antara 1-3 tahun 1 porsi, 4-9 tahun 2 porsi, 10-12 tahun perempuan 2 porsi. Kemudian 10-12 tahun laki-laki 2,5 porsi. Diatas 12 tahun 3 porsi. Untuk berat satuan perporsi adalah 50 gram.
dr. Sulasmi juga menyampaikan, bahwa dampak dari stunting antara lain penurunan kekebalan tubuh dan mudah infeksi berulang. Selain itu, keterlambatan pertumbuhan otak yang mengakibatkan tidak optimalnya kecerdasan rentan kena gangguan metabolik. Salah satunya obesitas.
“Karena anak stunting tidak bisa mengoksidasi lemak dengan baik. Akibatnya lemak menimbun banyak dan jadilah obesitas. Obesitas sendiri pemicu resistansi insulin yang mengakibatkan terjadinya diabetes,” terangnya.
Ia berpesan kepada para orang tua agar memenuhi asupan protein anak dengan protein hewani sesuai usia untuk mencegah stunting. Lakukan pemantauan berat badan dan tinggi badan rutin di posyandu terdekat.
“Bapak Ibu anak adalah aset dimasa yang akan datang, untuk itu mari kita penuhi asupan protein dan pantau tumbuh kembang anak,” pungkasnya.
PROTEIN HEWANI SANGAT BERPENGARUH TERHADAP TINGGI ANAK?
Hasil studi menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi dan asupan protein harian anak di usia penting pertumbuhan menunjang penambahan tinggi badan anak di usia sekolah (5-10 tahun). Jika hal ini tidak diperhatikan akan mengakibatkan asupan gizi yang diberikan dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan akan berpotensi melambatnya perkembangan otak.
Hal ini, berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Kebutuhan asupan protein harian sangat penting diperhatikan untuk tumbuh kembang anak usia pertumbuhan terutama protein hewani.

Protein hewani adalah protein yang berasal dari hewan, meliputi daging sapi, daging kambing, daging ayam, daging bebek, seafood, serta telur. Keunggulan protein hewani adalah memiliki komposisi asam amino esensial lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Selain itu protein hewani juga kaya akan mikronutrien seperti vitamin B12, vitamin D, DHA (docosahexaenoic acid), zat besi, dan zink.
Mikronutrien tersebut memiliki peran penting bagi tubuh, yaitu Vitamin B12 berperan untuk menjaga kesehatan saraf dan otak serta pembentukan sel darah merah, Vitamin D berperan dalam penyerapan kalsium dan sistem kekebalan tubuh, DHA memiliki peran kesehatan pada otak anak, Zat besi yang berperan untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan meningkatkan sistem imun tubuh, Zink berperan dalam mendukung system imun tubuh, masa pemulihan, dan baik untuk pencernaan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) no 28 tahun 2019 kebutuhan asupan protein harian anak disesuaikan dengan usia dari anak yaitu usia 6-11 bulan sebanyak 15 gram/hari, usia 1-3 tahun sebanyak 20 gram/hari, usia 4-6 tahun sebanyak 25 gram/hari, dan usia 7-9 tahun sebanyak 40 gram/hari.
Indonesia memiliki banyak sekali keanekaragaman sumber protein dan masing masing protein hewani memiliki kandungan protein yang berbeda-beda.
Jika asupan protein harian terutama protein hewani dapat terpenuhi dengan baik sejak awal usia pertumbuhan, kita dapat mencegah stunting pada anak. Stunting itu sendiri memiliki dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas.













