BANDA ACEH – Keni Gayo adalah kerajinan tradisional berupa kendi atau gerabah khas Suku Gayo yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Keni Gayo memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Gayo. Tak hanya digunakan sebagai wadah minum, Keni Gayo juga merupakan salah satu perlengkapan yang harus dimiliki dalam upacara pernikahan masyarakat Suku Gayo.
Dari sekian banyak warisan budaya Gayo, Keni Gayo merupakan salah satunya yang perlu perhatian khusus oleh pemerintah, karena diperkirakan Keni Gayo hampir mengalami kepunahan akibat sulit menemukan orang Gayo yang mempunyai keahlian membuatnya.
Hal tersebut, dikatakan langsung oleh Ibu Nurdiana, warga Kampung Jongok Meluem, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, yang merupakan salah satu orang Gayo yang mempunyai keahlian membuat Keni Gayo.
Ia mengatakan, keberadaan pengrajin gerabah Keni Gayo ini hanya tinggal beberapa orang saja, kondisi Keni Gayo saat ini menempati status terancam punah.
“Sangat disayangkan, apabila warisan budaya bangsa yang bernilai tinggi ini tidak dilestarikan sehingga mengalami kepunahan,” kata Nurdiana.
Nurdiana menjelaskan upaya untuk menjaga Keni Gayo tetap eksis sangatlah penting demi memelihara dan menjaga kelestarian salah satu khasanah kekayaan budaya lokal daerah itu.
Dikatakannya, Keni Gayo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Direktorat Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2018.
“Saya berharap Keni Gayo dapat sejajar dengan produk kerajinan lainnya untuk dapat diperkenalkan lebih luas lagi kepada masyarakat sehingga semakin diminati oleh pasar,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah mengatakan, Keni Gayo satu hasil seni budaya masyarakat Gayo yang saat ini terancam punah. Menurutnya pembuat benda sejenis gerabah ini sudah jarang ditemui ditengah masyarakat Gayo.
“Keni Gayo bagian kekayaan budaya masyarakat Gayo yang kembali harus kita lestarikan. Selain memiliki nilai ekonomis juga dapat mendukung pariwisata Aceh,” kata Nurlaila kepada situasi.co.id, Kamis (27/04/2023).
Untuk melestarikan Keni Gayo tersebut, kata Nurlaila, perlu adanya mempublikasikan ke publik melalui kegiatan even yang di gelar pemerintah maupun dinas-dinas terkait agar Keni Gayo tersebut tidak ditelan zaman,”
Nurlaila menambahan, pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 yang digelar pada bulan Agustus nanti, ia berharap Keni Gayo dapat didaftarkan pada even tersebut.
Mengenal Asal Usul Keni Gayo
Keni merupakan salah satu perlengkapan dalam upacara perkawinan di Gayo, hal ini menunjukkan betapa pentingnya keni dalam upacara tersebut sebagai eksistensi dari kebudayaan Gayo dari masa lalu hingga masa kini.
Selain itu, keni juga menunjukkan kreativitas dari orang Gayo khususnya kaum perempuan yang memiliki nilai estetika dalam memanfaatkan sumber daya alam hingga dapat menghasilkan kerajinan yang dapat memberikan kesejahteraan.
Macam-Macam Keni Gayo
Keni Gayo dibedakan menjadi empat macam bentuk yang disesuaikan dengan jenis kelamin pemakainya. Masing-masing bentuk memiliki ciri serta fungsi yang berbeda, misalnya Keni Rawan yang berkaki tinggi dan melebar ke bawah dipakai oleh kaum laki-laki, Keni Banan yang berbentuk bulat tanpa kaki dipakai kaum perempuan.
Keni Labu yang bentuknya mirip buah labu dipakai oleh sesepuh perempuan, serta Keni Ganyong yang juga bentuknya mirip buah labu dengan ukuran lebih kecil dipakai oleh anak-anak. Namun secara umum, kegunaan utama keni bagi masyarakat Gayo adalah sebagai wadah air minum.
Keni bukan sekadar peralatan rumah tangga yang berfungsi untuk menyimpan air minum, tetapi ia merupakan warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo yang sarat dengan nilai-nilai yang perlu dilestarikan.













