BANDA ACEH – Peci merupakan pelengkap penampilan berupa penutup kepala yang biasa digunakan oleh kaum pria khususnya masyarakat muslim. Terlebih jika berkunjung ke Aceh dapat menemukan peci tradisional khas Aceh yang ikonik yakni kupiah Meukeutop.
Untuk melestarikan dan mengenalkan budaya Aceh terutama Kupiah Meukeutop, salah seorang Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Jumadin mulai memproduksi dengan merek dagang Idi Gampong Garot Cut, Kabupaten Pidie.
Menurut Jumaidin, kerajinan tersebut telah ada sejak zaman dahulu dan keahlian membuat kupiah itu sudah diturunkan dari generasi ke generasi.
Junaidin menejelaskan, proses pembuatan Kupiah Meukeutop dilakukan secara handmade atau rajut tangan. Dengan menggunakan beberapa elemen kapas, benang dan kain yang berbahan dasar 100 persen halal, dengan memakan waktu hingga lima hari masa pembuatannya untuk satu buah kopiah.
“Untuk pekerja kita mempunyai tim sekitaran 12 orang, terdiri dari pengrajin yang ada di daerah Garot Cut, dari lansia hingga dewasa. Dikerjakan secara berantai oleh setiap elemen, masing-masing memiliki tupoksinya,” kata Jumadin kepada situasi.co.id, Kamis (13/4/2023).

Lebih lanjut, ia mengatakan, ada beberapa produk peci yang ditawarkannya, pertama berbentuk bulat bernama kupiah meukeutop, kedua agak tinggi ke atas yakni kupiah raja, ketiga mirip seperti songkok, di Aceh disebut dengan kupiah Tengku.
“Harga untuk satu buah kopiah itu cukup bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu,” ujarnya.
Ia memulai usahanya itu sejak 2020, dengan keinginan memperkenalkan kepada masyarakat luas hingga ke kancah nasional dan internasional, bahwasanya Aceh memiliki peci yang dapat eksis dan menjadi tren mode hingga kini.
“Kalau di nasional telah memiliki mitra di daerah Jakarta yaitu namanya Aceh Gallery. Sedangkan saat ini ada beberapa produk tembus ke internasional, tetapi melalui sejumlah figur yang ingin membawa kesana,” ucapnya.
Jumadin sengaja membuka bisnis peci khas Aceh itu, pasalnya ingin meningkatkan perekonomian khususnya bagi pengrajin kopiah Meukeutop.
Untuk kendala saat ini, kata Junaidin, yakni dari segi finansial, manajemen kepribadian, serta membangun sistem agar masyarakat dapat melakukan repeat order dengan menjadikan kopiah sebagai kebutuhan, bukan hanya menjadi ikon trend musiman.
“Harapan kedepan semoga anak muda di Aceh, terus berusaha melakukan yang terbaik dalam segala sesuatu yang ditekuni, tetap harus adanya action dalam pengembangan diri. Banyak hal dan ilmu bisa menghasilkan cuan asalkan punya tekad dan kemauan. Serta untuk pemerintah terus mensuport kami terutama pengusaha muda Aceh,” tutupnya.













