Canang Ceureukeh, Alat Musik Khas Lhokseumawe Yang Hampir Dilupakan

canang
Canang Ceurekeh Alat Musik Tradisiional Khas Kota Lhokseumawe (Foto: Istimewa)

BANDA ACEH – Kesenian daerah berupa Canang Ceureukeh merupakan alat musik tradisional asal Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, berjenis perkusi dengan bilahan dari kayu, yang ditabuh dengan menggunakan kayu atau setik.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan dan Pariwisata (DisbudparAceh melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah kepada situasi.co.id, Kamis (13/04/2023).

“Zaman dahulu, Canang Ceureukeh ini dimainkan oleh para petani di sawah pada masa sebelum panen. Tujuannya, untuk menjaga padi dari hama burung,” kata Nurlaila.

Namun saat ini, seiring perkembangan zaman, keberadaan Canang Ceureukeh ini sudah sangat langka karena kurangnya branding atau pengenalan kepada generasi muda.

“Sekarang, sudah sangat langka, peminatnya pula sangat sedikit. Bahkan sesekali dipakai menjadi alat pengiring musik dangdut,” ujarnya.

Ia berharap pada tahun pemerintah Lhokseumaweh dapat mendaftar Canang Ceureukeh di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 akan dilaksanakan pada bulan Agustus mendatang.

BACA JUGA:   Anggaran Pilkada Simeulue Disepakati Rp19,2 Miliar

“Karena dengan demikian eksistensinya sendiri bisa terus dipertahankan dan bisa menambah pengetahuan generasi muda terhadap tradisi khas Lhokseumwe tersebut,” katanya.

Perlu diketahui juga, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekhnologi RI menetapkan 17 karya budaya yang diusulkan Pemerintah Aceh sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) salah satunya Canang Ceureukeh.

“Semoga dengan tetapkannya Canang Ceureukeh sebagai WBTB pada tahun 2022 yang lalu, sehingga alat musik tradisional ini bisa terus kita kembangkan dan jangan sampai punah,” harapnya.

Hal senanada juga disampaikan Muhammad Isa Daud atau lebih dikenal Utoh Amad (73), seorang pengrajin alat musik tradisional yang kini tinggal di Desa Paya Teungoh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara.

canang
Utoh Amad pengrajin Canang Ceurekeh (Foto: Istimewa)

Diceritakannya, pada zaman dulu Canang Ceurekeh dimainkan oleh petani yang bercocok tanam usai memanenkan tanamannya. Baik itu, kacang, padi, jagung dan lainnya.

BACA JUGA:   Ada Apa? Penyidik Kajari Banda Aceh Geledah MAA

“Tradisi itu dimainkan sejak saya kecil dan turun menurun, sekilas yang saya tahu seperti itu, namun mengenai asal usul lainnya kurang mengetahuinya juga,” kata Utoh Amad.

Lebih lanjut, Utoh Amad menjelaskan, saat ini masyarakat atau anak muda ramai yang tidak mengetahui Canang Ceurekeh, tentu sangat disayangkan. Padahal salah satu budaya dan alat musik tradisional, namun jika masyarakat tidak mau memperkenalkan kepada anak cucu, maka lama-kelamaan akan punah sendirinya.

Dikatakannya bekerja sebagai pengrajin alat musik tradisional sudah lama digeluti hingga belasan tahun dan banyak yang memesan baik dari dalam maupun luar daerah.

“Alhamdulillah sekarang canang ceureukeh sudah masuk kedalam WBTB, dan semoga ke depannya pihak pemerintah lebih memperkenalkan kembali kepada anak-anak bangsa, supaya warisan tersebut tidak terlupakan oleh waktu dan budaya,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *