Mengenal Alat Musik Tradisional Aceh Rapai Yang Eksis Hingga Sekarang

rapai
Alat musik tradisional Aceh Rapai (Foto: Istimewa)

BANDA ACEHRapai merupakan salah satu alat musik pukul tradisional yang berasal dari Aceh. Menurut kepercayaan dari masyarakat Aceh, Rapai ditabuh (Dipukul) dengan menggunakan tangan kosong, tidak menggunakan stik yang dan hingga saat ini pun masih banyak digemari oleh kalangan masyarakat Aceh hingga generasi muda.

Alat musik Rapai juga termasuk salah satu adat istiadat orang Aceh yang tidak pernah luntur dan sering ditampilkan dalam kegiatan acara seremonial seperti penyambutan tamu istimewa kerajaan. Bahkan, kerap juga diselingi pertunjukan debus atau yang lebih dikenal dengan Top Daboh.

Hal tersebut dikatakan langsung oleh, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, kepada situasi.co.id, Selasa (18/04/2023).

Nurlaila mengatakan, sejarah rapai tersebut tidak terlepas dari peradaban masuknya Islam di Aceh. Karena rapai ini diperkenalkan oleh seorang ulama besar dari Baghdad yang menyebarkan Islam ke Aceh.

“Rapai ini erat kaitannya dengan penyebaran Islam di tanah Aceh pada abad ke 11,” kata Nurlaila.

Menurutnya, dalam beberapa catatan sejarah, rapai yang kemudian menjadi alat musik tradisional Aceh diperkenalkan oleh Syech Rapi atau ada yang menyebutkannya dengan Syech Rifai.

Nurlaila menjelaskan, Rapai pertama kali dimainkan di Ibukota Kerajaan Aceh pada abad ke-11 yaitu di Banda Khalifah, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Gampong Pande, Kota Banda Aceh. Dan disitu juga ada banyak peninggalan-peninggalan masa kerajaan Aceh dulu yang masih tersimpan dan terawat hingga sekarang.

BACA JUGA:   Bangga Jadi Wastra Aceh, Ini Harapan Kabid Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh

“Rapai terbagi menjadi beberapa jenis kesenian tradisional Aceh dan beragam bentuknya. Ada 6 jenis rapai yang dikenal di Aceh hingga sekarang,” jelasnya.

Ia menyebutkan, jenis-jenis rapai diantaranya yaitu Rapai Daboih, artinya sejenis pertunjukan ketangkasan mempertontonkan kesaktian seseorang kebal dari benda tajam. Dulunya daboih (debus) ini biasanya dimainkan oleh seorang khalifah yang memiliki ilmu kebal, ahli makrifat besi.

“Lalu ada Rapai Gerimpheng dimainkan secara duduk. Seni ini dimulai dengan memberikan salam, lalu menjulurkan tangan ke depan dan menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan secara serentak sambil memukul rapai dan menyanyikan ratoih (lagu).

Lanjut Nurlaila, ada juga Rapai Pulot juga dimulai dari salam dan dilanjutkan dengan penampilan akrobatik dan keahlian membentuk lingkaran bersambung.

“Kemudian ada Rapai Pase yang terdapat di Aceh Utara dengan formasi pemukul rapai sebanyak 30 orang,” ujarnya

Selanjutnya ada Rapai Anak, yaitu rapai ukuran sedikit lebih kecil berfungsi untuk mengadakan tingkahan, karena suara lebih nyaring dan mendenting, dan yang terakhir adalah Rapai Kisah/Hajat, mengisahkan atau hajat menginginkan seperti ingin memiliki rumah sendiri.

BACA JUGA:   BREAKING NEWS-Prabowo Tunjuk Fadhlullah Sebagai Ketua Partai Gerindra Aceh Gantikan TA Khalid

“Semua rapai ini juga lebih sering ditampilan pada upacara adat, pernikahan, sunatan, mauled dan upacara lainnya dalam Islam. Bahkan sekarang hampir semua acara seremonial pemerintah di Aceh juga diiringi oleh rapai,” katanya.

Sementara itu, Salah seorang pengrajin alat musik Rapai, Tgk Muhammad, warga Gampong Paya Teungoh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara mengatakan, Rapai merupakan alat musik tradisional Aceh yang ditabuh menggunakan tangan kosong dan biasanya berperan untuk mengatur ritme, tempo, gemerincing saat lantunan syair-syair bernuansa Islami.

rapai
Pengrajin alat musik Rapai, Tgk Muhammad (Foto: Istimewa)

Dari keterangannya, dirinya telah merintis usaha pembuatan alat musik rapai atau rebana tersebut sejak tahun 80-an. setiap harinya ia menerima pesanan pelanggan rata-rata 8 hingga 24 unit alat musik Rapai.

“Harga per unitnya yang saya jual bervariasi, antara Rp. 900 ribu hingga Rp. 1,5 juta, mulai dari rapai canang dan alee tunjang dengan modal peralatan yang sederhana serta dibantu oleh tiga orang pekerja,” ujarnya.

Maka dari itu, Ia berharap, Pemerintah Aceh khususnya Disbudpar Aceh peduli dengan usaha kerajinan yang dibuatnya, dengan cara mengenalkan kepada masyarakat melalui even-even besar.

“Saya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah Aceh agar kerajinan yang saya buat ini dapat dikenal masyarakat luas melalui acara-acara besar yang digelar,” pintanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *