BANDA ACEH – Berbicara tentang Nanggroe Aceh Darussalam memang tak akan ada habisnya. Provinsi di ujung utara Sumatra ini selain dikenal dengan sebutan Negeri Serambi Mekkah. Aceh juga dikenal dengan budaya dan kekentalan syariat islam yang diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kekayaan intelektual yang masih lestari hingga saat ini patut mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Suku Aceh ternyata memiliki keterampilan menyulam benang emas pada kain beludru. Motif khasnya yaitu motif tumbuhan. Tentunya ini sangat erat hubungannya dengan syariat islam yang tidak memperbolehkan untuk meniru bentuk makhluk hidup dalam lukisan atau gambar apapun salah satunya dalam motif kain sulaman ini.
Sejarah Kain Kasab (Sulaman Benang Emas)
Kain kasab adalah nama untuk sulaman dari benang emas atau perak yang menghiasi kain beludru. Kain istimewa ini memiliki nilai yang sangat penting kedudukannya dalam masyarakat Aceh. Pada mulanya kain ini ternyata diperuntukkan untuk kalangan ningrat. Ini tercermin dalam perbedaan warna kainnya.
Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah, kepada situasi.co.id, diruang kerjanya, Rabu (19/4/2023).
Nurlaila menyebutkan, konon jenis kain tradisional (Kasab) mewakili status sosial yang belakangan tidak dipermasalahkan lagi. Warna Kuning melambangkan seorang raja, warna merah melambangkan hulubalang raja atau panglima, hijau melambangkan ulama dan hitam melambangkan rakyat jelata.
“Kain kasab bukan hanya bermakna sebuah karya dan seni. Namun, corak indahnya adalah perwujudan dari nilai islami yang berakulturasi dengan kearifan local,” kata Nurlaila.
Kain Kasab (Sulaman Benang Emas) Sebagai Cendera Mata Dari Aceh
Namun sekarang, kata Nurlaila, zaman sudah modern. Kain sulam kasab kini dipakai pada aneka suvenir baik cinderamata pernikahan atau suvenir daerah wisata.
Oleh sebab itu, Pemerintah Aceh Melalui Disbudpar Aceh mengajak seluruh, para perajin, masyarakat dan anak – anak Aceh agar tetap menjaga dan merawat kain sulaman emas yang menjadi ciri khas Aceh itu.
“Semoga kelestarian budaya menyulam kasab ini akan terus terjaga hingga generasi yang akan datang. Karena budaya adalah ciri dari suatu bangsa. Jika kita tidak menjaga dan menghargainya maka suatu saat akan hilang tergerus zaman,” ujarnya.
Kasab Aceh Telah Go Internasional
Dikatakannya, sulaman kasab ini sudah go pasar internasional, bahkan sudah di impor ke negeri India, Pakistan dan ke negara – negara yang lain.
“Malaysia, Singapura dan Brunei pun tak kalah menjadi pangsa pasar kain kebanggaan khas Aceh ini,” ucapnya.

Sementara itu, pejabat (Pj) Aceh Barat mendukung penuh pengembangan kerajinan tangan tradisional sulam benang emas khas Aceh, yang saat ini digeluti oleh beberapa kelompok perempuan di Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat.
“Kami mengapresiasi Dekranasda Aceh dan Dekranasda Kabupaten Aceh Barat yang sangat fokus membina, khususnya pada sektor kerajinan sulam benang emas yang dikerjakan oleh warga desa Kuala Bubon Samatiga,” kata Pj Bupati Aceh Barat Drs. Mahdi Efendi, dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (19/4/2023).
Lebih lanjut, Mahdi mengatakan, ia mengharapkan dengan adanya pembinaan ini dapat berdampak positif dalam mengembangkan produk yang semakin inovatif, baik dari segi motif maupun desain, agar produk yang dihasilkan nanti semakin beragam dan banyak diminati oleh masyarakat luas bahkan hingga luar negeri.
Ia juga meminta agar pengelolaan kerajinan sulam emas milik masyarakat desa Kuala Bubon, harus dilakukan dengan cara profesional dan memiliki sistem manajemen yang baik, agar nantinya bisa berjalan secara mandiri dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Jika ingin semakin maju dan terus berkembang, manajemennya harus dikelola secara profesional serta mengerti dalam memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia saat ini,” katanya.
Untuk itu, kata Mahdi, Pemkab Aceh Barat telah berkomitmen untuk terus mendukung Dekranasda Aceh Barat dalam memberikan pembinaan yang dibutuhkan dalam mengembangkan industri kreatif yang ada di daerah tersebut, terkhususnya kreasi kerajinan tangan sulam benang emas.
“Dengan adanya kerajinan sulaman benang emas di desa Kuala Bubon itu, berharap menjadi motivasi bagi desa-desa lainnya untuk menggali potensi yang dimiliki, guna melahirkan berbagai inovasi baru untuk mendukung tumbuhnya ekonomi kreatif di Aceh, dan terkhususnya di Aceh Barat,” harapnya.













