JAKARTA – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Abdullah Azwar Anas menyinggung adanya dugaan praktik pegawai titipan di lingkungan pemerintahan. Hal itu membuat sejumlah dari pegawai honorer membludak.
Hal tersebut disampaikannya saat melakukan peresmian Mal Pelayanan Publik di Jakarta yang disiarkan secara virtual, Jumat (14/07/2023).
“Bapak ibu kalau bapak akan nerima terus (pegawai titipan), apalagi kita kan jabatan politik. Baru duduk orang sudah datang. Ada ponakan, tetangga saudara. Heh, apa kau gunanya jadi bupati, tetanggamu pun nggak bisa kamu bantu,” kata Anas.
Menurut Anas, fenomena itu memang menjadi godaan bagi para pegawai honorer. Jika permintaan itu terus dituruti nantinya akan berdampak pada jumlah pegawai titipan yang semakin banyak.
“Itu godaan-godaan. ‘Heh, kau Sekda, apa gunanya jadi Sekda. Ini adik mama mu pun nggak bisa kau bantu’. Wah yang gini-gini nih kadang. Akhirnya satu tambah satu. Wah jangan bilang-bilang ya saya titip Akhirnya 50 orang didengar titip semua. Karena yang jangan bilang-bilang cerita semua,” ujarnya.
Dijelaskannya, pada saat dirinya menjabat sebagai Bupati Banyuwangi ia mengaku tidak pernah sekali pun menerima pegawai titipan. Pasalnya jika sekali diterima, maka banyak pihak-pihak yang akan menitipkan pegawai.
“Saya tidak pernah titip satu pun orang selama saya menjabat,” tegasnya.
Akan tetapi, ia juga mengaku sempat membuat kekeliruan pada masa menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, dimana ia tidak mengontrol jumlah tenaga honorer di instansinya. Hal tersebut menyebabkan terjadinya sejumlah tenaga honorer menjadi banyak.
Atas dasar tersebutlah, Anas memutuskan untuk menggunakan sistem computer assisted test (CAT) dalam menyeleksi tenaga honorer. Terlebih lagi pemerintah pusat sudah memerintahkan untuk tidak lagi menerima atau merekrut honorer.
“Saya tidak pernah cek di SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) ini berapa tenaga honorer untuk membantu peningkatan kerja atau tenaga yang disisipkan di kegiatan. Ini kan kadang honorernya nggak ada tapi di kegiatannya banyak. Maka begitu didata jumlahnya ribuan,” tuturnya.













