Opini  

Sungguh Miris, Bahasa Simoeloel Hilang Termakan Oleh Waktu

Drs. Jaraman Jambek
Tokoh Simoeloel, Drs. Jaraman Jambek. (Foto: Istimewa)

situasi.co.id I SIMEULUE – Salah seorang tokoh (Simoeloel) meminta Pemerintah Kabupaten Simeulue dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Simeulue, untuk dapat mengkaji ulang atas hilangnya bahasa Simolol yang digunakan di Daerahnya, Kamis (23/02/2023).

Perlu diketahui, bahasa Simolol secara turun temurun telah lama dikenal dalam sejarah peradaban masyarakat Kabupaten Simeulue, dikarenakan disana banyak tanda-tanda pusat peradaban, seperti makam ulama besar Tengku Diujung atau Tengku Khalilullah dan Isterinya, yang berada dikawasan Pantai Latak Ayah atau dengan sebutan pelabuhan “Simolol”.

Sejarah peradaban Simolol itu ada dalam Ensiklopedia Hindia Belanda, pada cetakan kedua tahun 2003. Menjelaskan, Simoeloel berasal dari kata Simaloer, nama Melayu untuk pulau terbesar dan paling utara dari rangkaian kepulauan Nias, yang mengikuti pantai Barat Sumatera dan berakhir di bagian Selatan dengan Pulau Enggano dan dalam bahasa pribumi dinamakan Simoeloel.

BACA JUGA:   Pemko Sabang Kembali Raih opini WTP dari BPK RI Aceh

Akan tetapi, sekarang sangat kita sayangkan bahasa Simolol yang biasa digunakan di tiga kecamatan itu, mulai hilang termakan oleh waktu dan mirisnya sengaja dihilangkan dari sejarah peradaban.

Dalam buku sejarah “Bunga Rampai Simeulue” yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Simeulue, menyebutkan sejarah peradaban “Simoeloel” atau “Simolol”‎, hanya dipatenkan sejarah peradaban kecamatan lainnya, sehingga ada anggapan “Simoeloel” atau “Simolol”‎‎ tidak ada dalam sejarah peradaban.

Tokoh Simolol Drs. Jaraman Jambek. saat dikonfirmasi situasi.co.id menjelaskan, pulau Simeulue yang terkenal akan adat istiadatnya dan karifan lokalnya yang sangat luar biasa, ditambah lagi kaya akan bahasa namun di sayangkan ada salah satu bahasa daerahnya yang sengaja dihilangkan.

“Kita sangat menyayangkan ada bahasa yang jelas referensinya dan berbeda secara dialeknya, namun sengaja dihilangakan keberadaanya,” kata jaraman.

BACA JUGA:   Globalisasi dan Hukum Kepailitan di Indonesia

Lanjut Jaraman, wajar Kami masyarakat dari tiga kecamatan melontarkan protes, sejarah daerahnya ada yang sengaja dihilangkan‎.

Ditambah lagi, generasi muda saat ini yang ada ditiga Kecamatan yaitu Teluk Dalam, Simeulue Tengah dan Simeulue Cut, mulai tidak mengenal bahasa simolol, mereka mengira bahasa yang dipakai sehari-hari itu adalah bahasa Devayan tetapi itu jelas berbeda.

“Banyak generasi simolol mengira, bahasa Simolol itu bahasa Devayan sementara itu jelas berbeda,” ujar Jaraman.

Jaraman juga menjelaskan, bahasa Simolol merupakan bahasa yang paling tua di Kabupaten Simeulue ini, karna memang secara logat dan tutur bahasa kalimatnya sangat halus dan enak didengar.

“Untuk itu kami minta secara tegas kepada pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Simeulue dan Anggota Legislatif, untuk mengkaji ulang atas sengaja dihilangkannya Bahasa Simolol ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *