BANDA ACEH – Ketua Litbang Lamuri.id Fikrah Aulia angkat bicara terkait meningkatnya kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV/AIDS) di Aceh dalam beberapa waktu lalu yang menyita perhatian publik.
Dalam keterangannya, Fikrah mengatakan, bahwa ini adalah persoalan serius yang harus menjadi perhatian seluruh pihak. Isu ini bukan hanya sekedar isu daerah maupun nasional, tetapi HIV/AIDS juga merupakan isu perhatian global.
“HIV/AIDS menjadi masalah serius karena bukan hanya merupakan masalah kesehatan atau persoalan pembangunan, tetapi juga masalah ekonomi, sosial, dan lain-lain,” kata Fikrah, Senin (05/06/2023)
Ia menyebutkan, terhitung sejak tahun 2020 hingga 2023 kasus HIV/AIDS di aceh meningkat. Pada awal 2020 di temukan 5 kasus, 2021 meningkat menjadi 35 kasus dan 2022 naik lagi sebanyak 88 kasus hingga pada Februari 2023 di temukan 4 kasus HIV/AIDS di Aceh.
“Jika di akumulasikan total pengidap HIV/AIDS provinsi aceh sebanyak 198 orang” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, seperti yang kita tahu bahwa kasus pengidap HIV/AIDS di aceh melonjak dengan pesat. Oleh karena itu, menjadi suatu masalah yang perlu perhatian khusus dari pemerintah serta kesadaran masyarakat aceh.
Fikrah menjelaskan, waktu rentang umur yang paling banyak terinfeksi dan memberikan dampak buruk pada kesehatan yaitu pada usia produktif, sehingga hal itu akan berdampak pada ekonomi.
“Usia rata-rata pengidap penyakit HIV/AIDS antara 20-39 tahun, artinya rentang usia tersebut adalah usia produktif. Sehingga apabila kasus ini terus melonjak akan memberikan dampak sosial ekonomi bagi daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, menurut Pardita (2014) dampak HIV/AIDS di bidang ekonomi dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dampak secara langsung dan secara tidak langsung.
“Dampak ini dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat dan akhirnya pada negara bahkan global,” ujar Fikrah.
Menurutnya, dampak akibat angka HIV/AIDS yang tinggi dapat memperlambat pada pertumbuhan ekonomi serta dapat mengurangi angka jumlah penduduk global.
“HIV/AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan merusak jumlah penduduk yang mempunyai kemampuan produksi (human capital) yang baik,” terangnya.
Dengan adanya ancaman tersebut, ia berharap pemerintah bersama dengan unsur lainnya wajib untuk memberikan perhatian lebih, karna untuk mencapai kemajuan sebuah bangsa isu kesehatan merupakan hal utama yang harus di perhatikan.
“Urusan kesehatan ini turut menentukan kualitas sumber daya manusia terkhusus bagi generasi muda Aceh,” tuturnya.
Menyadari betapa bahayanya virus HIV/AIDS, ia meminta bagi semua pihak untuk mengikhtiarkan pencegahan terjangkit, tersebar atau tertularnya virus yang mematikan tersebut melalui berbagai cara yang memungkinkan untuk itu, dengan melibatkan peran Ulama/tokoh agama.
“Namun, perlu digaris bawahi bahwa peran pemerintah dan seluruh pimpinan juga perlu bersikap secara proporsional agar dapat mengatasi permasalahan ini,” Pungkasnya.













