Pusat Studi Persia UIN Gelar FGD, Dr. Fakhrul Rijal: Apa Yang Membuat Iran Kuat?

persia
Pusat Studi Persia UIN menggelar Forum Group Discussion, di Solong Caffe Jepang, Kota Banda Aceh, Senin (05/05/2023) (Foto: Istimewa)

BANDA ACEH – Pusat Studi Persia UIN Ar-Raniry menggelar Forum Group Discussion (FGD) yang bekerjasama dengan Kebudayaan Islam Iran di Jakarta dengan tema “Apa Tanggapan Intelektual Aceh terhadap Revolusi Islam Imam Khomeini”.

Kegiatan tersebut dipandu oleh Nurma Dewi dengan pemateri, Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA dan menghadirkan sejumlah intelektual-intelektual muda Aceh yang berlangsung di Solong Caffe Jepang, Kota Banda Aceh, Senin (05/05/2023).

Terdapat juga beberapa pemateri diantaranya, Dr. Chairan M. Nur, M. Ag, Dr. Murni, M.Pd, Dr. Syamsul Bahri, Drs. M. Jakfar Puteh, M. Pd, Dr. Zulkhaidir Widyawasra, Dr. Dicky Wirianto, Dr. Fakhrul Rijal, Ustad Syahrizal, MA dari d.ayah Inshafuddin, dan juga hadir kandidat doktor Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Nurdin, Assauti Wahid dan Kudri.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh generasi millenial sebagai gerakan intelektual bagi kaum muda.

Sebagai pemantik wacana disampaikan, Prof Hasbi menurutnya, bahwa telah membaca peristiwa revolusi Islam Imam Khomeini yang terjadi di tahun 1979.

“Kala itu ada wartawan Indonesia Nasir Tamara dari Suara Pembaharuan yang melaporkan peristiwa revolusi itu setiap hari. Nasir Tamara termasuk ikut dalam pesawat yang membawa pulang Imam Khomeini dari Perancis ke Iran,” katanya, kepada situasi.co.id, Rabu (07/06/2023).

Kemudian, latar belakang munculnya revolusi Islam di Iran, ketika dipimpin rezim Shah Reza Pahlevi, bahwa praktik pemerintah yang dijalankan secara otoriter dan tak sesuai dengan cita-cita bangsa Iran pada waktu itu. Di samping itu juga, perilaku hidup mewah Shah Reza yang jauh dari ajaran Islam yang dianut mayoritas rakyat Iran.

“Sementara sebagian masyarakat Iran ketika itu hidup dalam kondisi melarat, kemewahan istana Shah Reza masih dijadikan objek wisata oleh pemerintah Iran sampai sekarang. Yang dilaporkan oleh beberapa wartawan yang sempat di undang ke Taheran beberapa tahun yang lalu,” ungkapnya.

BACA JUGA:   UIN Ar-Raniry Terima 7.175 Mahasiswa Baru

Oleh sebab itu, Imam Khomeini sering berbicara lantang dan mengkritik rezim Shah Reza yang mewakili ulama-ulama di iran. Hingga kemudian, Imam Khomeini dipenjara dan diasingkan. Meskipun demikian, pemikiran-pemikiran Imam Khomeini tetap hidup dan terus dikumandangkan kendatipun Imam Khomeini berada di pengasingan.

“Di antara sekian banyak perubahan yang terjadi di Iran pasca revolusi adalah pengaruh pada perilaku hidup sederhana masyarakat yang dicontohkan oleh Imam Khomeini sebagai pemimpin spiritual rakyat Iran pada masa itu,” imbuhnya.

“Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari gerakan revolusi itu adalah semangat untuk memajukan bangsa Iran, termasuk dalam pengembangan ilmu. Dalam membangun negeri mereka akrab kerjasama ulama dan intelektual. Revolusi Iran seharusnya memberi gambaran bagi mahasiswa atau pemuda-pemuda Indonesia untuk bangkit dan bertekad mempelajari ilmu pengetahuan. Karena, dengan ilmu pengetahuan dapat membantu sebuah negara maju dalam berbagai aspek pembangunan,” pungkas Prof. Hasbi.

Kemudian, menurut Dr. Chairan, revolusi Islam membangkitkan semangat masyarakat dan negara. Bagaimana mungkin dengan kehidupan masyarakatnya yang sangat sederhana. Namun, memiliki pemikiran yang luar biasa.

Sementara, Drs. M. Jakfar Puteh, M.Pd menyebutkan, Imam Khomeini adalah sosok yang tidak pernah berhenti mengkritik pemerintah Shah Reza. Begitupun pasca revolusi adanya semangat keilmuan di Iran dan kepedulian kepada pendidikan menjadikan negara Iran terus berkembang dari waktu kewaktu.

Memantik diskusi-diskusi tersebut, Dr. Zulkhaidir juga mengatakan, seharusnya kekuatan akar dari revolusi itu harus ditemukan. Dengan begitu, pemikiran revolusi Islam dapat dikembangkan di Aceh.

“Kita harus menemukan kekuatan akar dari revolusi ini. Dengan begitu, pemikiran-pemikiran revolusi Islam dapat dikembangkan dalam paradigma berpikir ilmiah di Aceh,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Diduga Tak Transparan, APH Diminta Audit Bumdes Pulau Siumat

Seraya berjalannya diskusi yang sangat alot, Dr Syamsul Bahri berkesempatan juga menyampaikan bahwa pembahasan dan diskusi tentang Persia dulu sangat hidup di Pascasarjana. Namun, tanggapan negatif juga sering dilontarkan. Sehingga, diskusi-diskusi ilmiah seperti ini tidak adalagi.

“Dulu di Pascasarjana ini sering adanya pembahasan tentang Persia, karena tanggapan negatif tidak ada lagi,” terang Dr Syamsul Bahri

Senanda juga dengan, Mahasiswa doktor Pascasarjana, Nurdin, ia menyebutkan bahwa banyak kajian tentang perkembangan Islam di awal revolusi Islam Khomeini dan ini sangat bagus. Perkembangan revolusi inipun sampai ke Aceh.

Sementara itu, Dr. Dicky Wirianto, mencoba melihat Aceh dari sudut pandang konsep imamah.

“Sebenarnya di Aceh sudah ada qanun yang memberi syarat kepada calon-calon pemimpin mulai dari tingkat terendah yaitu geuchik (kepala desa), penunjukan calon gubernur harus melalui tahapan salah satunya adalah latar belakang pendidikannya, kefahamannya terhadap agama, juga akhlak,” ungkapnya.

Tak hanya itu, standar-standar inilah kemudian disampaikan kepada masyarakat dengan berpedoman pada qanun.

“Apakah ada kesamaan konsep Imamah antara Iran dan Aceh?,” tanyanya.

Kemudian, apakah konsep Wali Nanggroe dipersiapkan seperti konsep Imam Khomeini, yang nantinya Wali Nanggroe dapat memilih dan mengatur jalannya pemerintahan di Aceh.

Dr. Fakhrul Rijal menyampaikan Iran sebelum revolusi sangat tergantung kepada negara asing, pasca revolusi Iran masih lemah. Seiring waktu dan bangkitnya kesadaran keilmuan, Iran menjadi negara Islam yang mandiri.

“Tetapi disini lagi – lagi media Barat menciptakan narasi untuk membenci Iran,” ucapnya.

Kemudian, apa yang membuat Iran kuat, ini dikarenakan nilau tauhid. Ketika tauhid benar, maka tidak ada korupsi, tidak ada kecurangan, tidak ada bermegah-megahan dan tidak ada perilaku-perilaku buruk lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *