Bangga Jadi Wastra Aceh, Ini Harapan Kabid Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh

aceh
Kain Songket Khas Aceh (Foto: Istimewa)

BANDA ACEH – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh mengungkapkan rasa bangga dengan salah satu Warisan Tradisonal (Wastra) Aceh dalam hal ini tenun songket Aceh tampil di ajang Fashion Week, Perancis.

Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah mengatakan, beberapa waktu lalu aktris Ariel Tatum mengenakan Songket Aceh saat menghadiri gala dinner menjelang acara puncak Le Defile L’Oreal Paris.

“Pada saat itu Ariel Tatum menggunakan busana rancangan desainer Didiet Maulana, yang menggunakan bahan kain tenun songket bermotif Bungong Keupula, yang merupakan hasil karya penenun Mutiara Songket yang berasal dari Desa Krueng Kaler, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar,” kata Nurlaila, kepada situasi.co.id, Rabu (19/4/2023).

Lebih lanjut, Nurlaila mengatakan, suatu rasa kebanggaan Songket Aceh bisa menjadi pilihan busana yang dipakai pada ajang bergengsi tersebut, dan kami berharap kain songket Aceh Besar dapat di tampilkan di acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8.

“Kita dapat melihat tenun Aceh dapat menjadi prospek yang baik ke depannya dan berpeluang tampil di ajang PKA ke 8 yang akan digelar pada bulan 8 nanti,” ucap Nurlaila.

Ia berharap kain songket ini bisa menjadi ekonomi kreatif dan menciptakan SDM serta membuka lapangan kerja baru disektor ekonomi kreatif untuk masyarakat aceh.

Disbudpar sendiri, kata Nurlaila, melalui bidang Bahasa dan Seni saat ini telah menginvetarisasi ragam ragam hias Aceh. Dan ini tentunya akan menciptakan berbagai alternatif baru bagi penciptaan karya tenun Aceh salah satunya pegiat songket Aceh Besar.

Menanggapi hal itu, Pj Ketua Dekranasda Aceh Besar, Cut Rezky Handayani S.IP MM mengatakan, belasan pegiat songket di Aceh Besar telah mengikuti pelatihan pengembangan dan desain songket sulaman daerah (Solanda) di Gampong Krueng Kalee Kecamatan Darussalam.

BACA JUGA:   Keren! Sulap Eceng Gondok Jadi Kerajinan Bernilai Jual

“Untuk itulah Desainer Vinto kami hadirkan langsung dari Jakarta untuk membimbing dan mengedukasi pengrajin demi pengembangan songket Aceh Besar,” kata Handayani.

songket
Pj Ketua Dekranasda Aceh Besar Cut Rezky Handayani S.IP MM bersama Desainer Vinto R. Effendi S.Ds M.Ds, saat meninjau langsung pelatihan pengembangan songket Aceh Besar di Gampong Krueng Kalee, Darussalam (Foto: Istimewa)

Ia mengaku akan terus mendorong dan menfasilitasi songket Aceh Besar dari sisi kualitas produk dan kuantitas produksi dalam menunjang pekonomian para pengrajin. Disamping itu ia juga akan meningkatkan citra daerah sebagai penjaga warisan benda dan budaya songket.

“Kita akan terus memfasilitasi pengrajin, baik pelatihan menciptakan motif baru hingga pendampingan pengembangan dan desain,” ujarnya.

Handayani menjelaskan, para pegiat songket tersebut dilatih dan didampingi langsung oleh Desainer Vinto R. Effendi dan Desainer Haerul selama dua pekan di dua lokasi pusat kerajinan Mutiara Songket Krueng Kalee dan kerajinan Songket Cut Bit Miruek Taman.

Desainer Vinto kepada para pegiat songket meminta agar masing-masing pengrajin memiliki ornamen (motif) yang berbeda setelah pelatihan dilaksanakan.

“Iya, masing-masing pengrajin harus memiliki motif, untuk itulah kita latih, kita pandu dan ajarkan,” imbuhnya.

Makna Dari Kain Songket Khas Aceh

Pulau Sumatra dijuluki sebagai Swarnabhumi atau Swarnadwipa yakni sebuah julukan Pulau Emas. Julukan ini diberikan karena masyarakat Sumatera yang gemar memakai kain tenun berasal dari daerah Aceh dengan gemerlap warna, corak, dan kilauan emas yang terpancar dari tenun yang dipakainya.

Kain Songket Aceh atau tenun tradisional Aceh adalah kerajinan tangan yang dilakukan secara tradisional dan turun temurun dengan menggunakan alat tenun kaki tangan (ATKTP). Benang tradisional ini kemudian dibuat berbagai macam keperluan, di antaranya hiasan meja, hiasan dinding dan keperluan lainnya dengan motif berwarna-warni.

Hasil dari tenunan pakaian adat songket bukanlah sekadar secarik kain, padanya melekat nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat. Setiap daerah mendiami gugusan pulau di Indonesia menyimpan kekhasan tersendiri, tidak terkecuali dari provinsi ujung barat nusantara ini.

BACA JUGA:   Canang Ceureukeh, Alat Musik Khas Lhokseumawe Yang Hampir Dilupakan

Riwayatnya  kain songket pada masa penjajahan dahulu, digunakan para pejuang Aceh ditenun dengan motif kaligrafi, membentuk bacaan kalimat “Lailahaillallah” inilah yang dinilai menjadi letak kekuatan kain tersebut membangkitkan semangat rakyat Aceh.

Budaya menenun telah ada pada masyarakat Aceh dan merupakan warisan budaya yang telah berusia ratusan tahun lamanya, sebagaimana halnya membatik pada masyarakat pulau Jawa. Kain tenun Aceh pernah mengalami puncak keemasannya pada era 1970-an, salah satu yang terus tumbuh dan berkembang seperti industri kerajinan bordir, kerajinan kasab, batik Aceh, Songket Aceh, industri sepatu kulit, industri makanan dan kue tradisional pakaian dan menjadi salah satu kawasan potensi industri berskala besar.

Motif Kain Songket Khas Aceh

Kain songket khas Aceh tidak semata – mata untuk keperluan hiasan saja, akan tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam yakni motif yang menggambarkan keadaan lingkungan alam sekitar.

Diantara semua motif yang menarik, motif bungong adalah adalah motif yang paling terkenal. Tenun Aceh motif bungong terbentuk dari petikan – petikan kalimah dalam ayat suci Al-Qur’an yang biasanya digunakan untuk penutup kepala dan selendang bagi perempuan.

Penempatan motif bungong kalimah di bagian kepala berkaitan erat dengan konsep yang berkembang dalam masyarakat Aceh bahwa kalimah Allah harus ditempatkan di posisi yang tinggi.

Banyak lagi jenis – jenis motif songket Aceh selain Bungong yakni seperti motif buah, motif bunga, motif awan, motif tali air serta geometris. Terdapat juga motif bunga delima, arti filosofi dari buah delima juga sangat menarik yakni menggambarkan salah satu buah yang ada disurga. dan songket aceh juga memiliki filosofi lainnya seperti motif daun sirih, motif pucuk rembung dan lainnya yang melambangkan kehidupan duniawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *