BANDA ACEH – Pakaian Mesikhat Alas menjadi salah satu souvenir paling diburu dan diminati wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Aceh Tenggara.
Pasalnya, pakaian Mesikhat dengan motif Alas seperti, baju Adat Alas, baju gamis, Dompet, Sumpit, Topi, Payung, Cengkuk dan Selempang, selain cantik dan menawan harganya juga relative sangat terjangkau.
Sehingga, Mesikhat menjadi alternatif souvenir khas Alas yang akan dibeli wisatawan untuk dipakai, serta membawa pulang sebagai oleh-oleh saat untuk keluarga serta kerabatnya saat kembali dari berkunjung di Kabupaten Agara.
Pakain Mesikhat, juga merupakan pakaian asli adat Alas yang selalu digunakan oleh masyarakat sekitar ketika melaksanakan resepsi pernikahan dan khitanan.
Seorang penjahit pakaian Mesikhat, Ahmad mengatakan, pesanan untuk pembuatan pakaian Mesikhat cukup ramai.
“Minat pembeli lumayan banyak, dalam satu bulan dari pesanan kita bisa dapat omzet minimal Rp5 juta,” kata Ahmad.

Menurut Ahmad, harga pakaian Mesikhat yang dijual harganya masih relative murah dan sesuai dengan tingkat kesulitan saat pembuatan jenis pakaian tersebut. Misalnya, baju gamis Mesikhat untuk perempuan, baju koko dan kemeja untuk laki-laki di bandrol dengan harga Rp250 ribu hingga Rp1.5 juta per baju.
Kemudian lanjut Ahmad, selain pakaian, ada juga Payung Mesikhat, yang merupakan salah satu karya dari Aceh dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2017 dengan domain kemahiran dan kerajinan tradisional dengan registrasi pencatatan 2017007377.
Dengan ditetapkannya Payung Mesikhat sebagai Warisan Budaya Tak Benda, masyarakat Aceh khususnya Aceh Tenggara berterimakasih kepada pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.
Salah satu ucapan tersebut diungkapkan Tukang Jahit Saudara Kembar Mesikhat, Asma Wati saat ditemui situasi.co.id di kediamannya, Selasa (25/04/2023).
Ia mengatakan, bahwa sangat bersukur dan berterimakasih kepada Dinas terkait, baik di Aceh Tenggara Maupun Pemerintah Aceh dalam hal ini Disbudpar Aceh.
“Sangat bersyukur telah dinobatkan sebagai salah satu WBTB Indonesia tahun 2017 lalu,” kata Asma Wati.

“Atas pencapaian ini kami sangat berharap ke depan ada perhatian khusus kepada pengrajin Mesikhat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui Kepala Bidang Seni dan Bahasa, Nurlaila Hamjah mengungkapkan, bahwa dengan bertambahnya koleksi karya Aceh yang telah ditetapkan pemerintah pusat, maka karya budaya Aceh semakin terpromosikan, terlestarikan atau tidak hilang tergerus zaman.
“Semoga dengan telah ditetapkan Seni budaya yang telah kita miliki saat ini menjadi semakin terkenal dan terus sama-sama kita jaga serta lestarikan,” pungkasnya.













