Daerah  

PWM Aceh Gelar Pengajian Menjelang Ramadan di Gedung Dakwah Muhammadiyah

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh saat sesi pengajian di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Merduati, Kota Banda Aceh, Minggu sore (15/2/2026). Foto: ist
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh saat sesi pengajian di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Merduati, Kota Banda Aceh, Minggu sore (15/2/2026). Foto: ist

SITUASI | Banda Aceh- Pimpinan Wilayah Muhammdiyah Aceh gelar pengajian menjelang bulan suci Ramadan di Merduati, Kota Banda Aceh, pada Minggu sore, (15/2/2026).

Pengajian tersebut berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Aceh yang dilaksanakan secara hybrid (daring-luring) yang diikuti oleh 23 PDM se-Aceh, Pimpinan Ortom tingkat Wilayah, dan Pengurus Majelis-Lembaga PWM Aceh.

Prof. Alyasa’ Abu Bakar, MA, selaku penasehat PWM Aceh dan Guru Besar UIN sebagai pengisi materi dalam pengajian tersebut.

Selanjutnya, dalam sesi pengajian tersebut, Prof. Alyasa’ menekankan bahwa Muhammadiyah telah memiliki jadwal imzakiah di bulan Ramadan tahun 2026 ini dengan mengacu kepada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

BACA JUGA:   Satpol PP Tertibkan Delapan Gepeng Bermotor di Aceh Besar

“Muhammadiyah berdasarkan hasil Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026,” terang Prof. Alyasa’ dalam kajian yang diisi pada Minggu sore.

Sedangkan untuk 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan jadwal ini merujuk pada Kelender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui sidang tarjih Muhammadiyah, jelasnya.

Ketua Pimpinan Muhammadiyah Aceh, A.Malik Musa, SH.,M.Hum, turut menyampaikan momentum bulan ramadhan tahun ini ialah sebagai perajut silaturahim ditengah segala perbedaan dan kondisi dilalui khususnya Aceh saat ini.

BACA JUGA:   Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia, Ketua ACW: Harus Kita Maknai

“Perbedaan tidak menjadi sebuah masalah, baik dalam pelaksanaan ibadah maupun penentuan awal ramadan dan syawal. Karena masing-masing mempunyai dasar hukum dan rujukan. Kita jadikan setiap perbedaan sebagai ajang mempererat silaturahmi sesama umat muslim baik di Aceh maupun diseluruh Indonesia,” sebutnya.

Hal ini merupakan suatu rahmat dalam hal perbedaan, serta sebagai momentum kebangkitan bagi seluruh umat muslim, tutup A. Malik Musa. (YN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *