27 Tahun Simeulue: Transportasi Tertatih, Pariwisata Menanti Solusi

Screenshot 20261011 161601

SITUASI.CO.ID | SIMEULUE — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Simeulue yang memasuki usia ke-27 pada 2026 hendaknya tidak hanya menjadi agenda perayaan dan seremoni tahunan. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk mengevaluasi arah pembangunan daerah, khususnya dalam mendorong sektor pariwisata, memperbaiki konektivitas transportasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Minggu (11/10/2026)

Hal itu menjadi sorotan Fadlan Ihsan, S.S., dalam sebuah refleksi bertajuk “Hari Jadi Kabupaten Simeulue: Apakah Hanya Sekadar Perayaan dan Seremoni Setiap Tahunnya?” yang menyoroti tantangan pembangunan daerah setelah 27 tahun Kabupaten Simeulue berdiri.

Menurut Fadlan, Simeulue memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Aceh. Keindahan pantai, ombak yang dikenal di kalangan peselancar mancanegara, kekayaan bahari, serta budaya lokal merupakan modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Momentum Hari Jadi Kabupaten Simeulue seharusnya tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia daerah, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk mengevaluasi arah pembangunan dan merumuskan langkah nyata yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” demikian pandangan Fadlan dalam refleksinya.

Namun, menurutnya, potensi pariwisata tersebut belum akan berkembang secara maksimal apabila persoalan mendasar, terutama akses transportasi dan keterjangkauan biaya perjalanan, belum mendapatkan perhatian serius.

Maharnya biaya perjalanan udara, keterbatasan pilihan penerbangan, serta biaya tambahan untuk membawa perlengkapan selancar menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan daya saing pariwisata Simeulue.

“Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, biaya perjalanan menjadi salah satu pertimbangan penting. Jika akses menuju Simeulue sulit dan mahal, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi minat kunjungan wisatawan,” tulis Fadlan.

Ia menilai, dampak keterbatasan konektivitas tidak hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga pelaku usaha lokal yang menggantungkan pendapatan pada sektor pariwisata. Mulai dari pemilik penginapan, pelaku kuliner, penyedia transportasi lokal, pemandu wisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Transportasi Harus Menjadi Prioritas Pembangunan

Fadlan berpandangan bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan promosi destinasi dan pembangunan fasilitas wisata. Kemudahan akses menuju Simeulue juga harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan daerah.

BACA JUGA:   Cucu Main Korek Api, Sijago Merah Lalap Gudang Kayu

Salah satu langkah yang dinilai perlu diperjuangkan adalah memperkuat koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Simeulue, Pemerintah Aceh, pemerintah pusat, Kementerian Perhubungan, dan maskapai penerbangan untuk membahas keterjangkauan tarif, ketersediaan jadwal, kapasitas penerbangan, serta biaya pengangkutan perlengkapan selancar.

“Pemerintah daerah perlu mendorong kajian dan kerja sama yang sesuai dengan ketentuan agar konektivitas udara semakin baik dan akses perjalanan menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat maupun wisatawan,” ungkapnya dalam refleksi tersebut.

Selain transportasi udara, Fadlan menekankan pentingnya peningkatan layanan transportasi laut. Menurutnya, kepastian jadwal keberangkatan, pelayanan yang memadai, fasilitas pelabuhan, serta informasi perjalanan yang mudah diakses perlu menjadi perhatian bersama.

Konektivitas antarmoda juga perlu diperkuat agar perjalanan menuju berbagai destinasi wisata di Simeulue dapat direncanakan dengan lebih mudah, nyaman, dan efisien.

Promosi Wisata Harus Sejalan dengan Kemudahan Akses

Dalam pandangannya, promosi pariwisata harus berjalan seiring dengan kemudahan akses dan kepastian informasi perjalanan. Wisatawan perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai pilihan rute, jadwal transportasi, paket perjalanan, akomodasi, dan perkiraan biaya kunjungan.

“Destinasi yang indah akan lebih kompetitif apabila wisatawan dapat merencanakan perjalanan dengan mudah dan mengetahui perkiraan biaya sejak awal,” tulisnya.

Ia juga mengingatkan agar pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi turut memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.

Pelaku UMKM, nelayan, petani, pemilik penginapan, pelaku kuliner, pemandu wisata, dan generasi muda perlu diberikan ruang untuk berpartisipasi dalam rantai ekonomi pariwisata. Dukungan berupa pelatihan, pendampingan usaha, akses pembiayaan, serta kemitraan yang adil dinilai penting agar masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton pembangunan.

Kelestarian Alam dan Peningkatan PAD

Di sisi lain, Fadlan menilai kelestarian lingkungan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan pariwisata Simeulue. Kebersihan pantai, kelestarian ekosistem laut, kualitas ombak, dan keberlanjutan budaya lokal merupakan aset yang harus dijaga.

BACA JUGA:   Buaya Muara Berpindah ke Hilir Sungai Desa Sembilan, Ancaman Nyata bagi Nelayan dan mayarakat pesisir. ‎

Pengembangan sektor pariwisata juga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui tata kelola yang transparan, kepatuhan terhadap ketentuan pajak dan retribusi, serta pengembangan usaha produktif yang tidak membebani masyarakat secara berlebihan.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya destinasi yang dipromosikan atau jumlah penginapan yang dibangun.

“Ukuran yang lebih penting adalah meningkatnya kunjungan wisatawan secara berkelanjutan, bertambahnya lapangan kerja, berkembangnya UMKM, meningkatnya pendapatan masyarakat, serta kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD,” menjadi salah satu penekanan dalam refleksi tersebut.

Hari Jadi Harus Menjadi Momentum Perubahan

Memasuki usia ke-27, Kabupaten Simeulue membutuhkan komitmen pembangunan yang tidak berhenti pada perencanaan dan perayaan tahunan. Potensi alam yang besar perlu didukung kebijakan yang tepat, infrastruktur yang memadai, transportasi yang terjangkau, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Fadlan berharap, peringatan Hari Jadi Kabupaten Simeulue dapat menjadi momentum untuk memperkuat evaluasi dan mendorong lahirnya langkah-langkah konkret yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

“Jangan sampai setiap tahun kita merayakan bertambahnya usia kabupaten, tetapi persoalan mendasar masyarakat terus berulang tanpa solusi yang terukur,” tegasnya dalam refleksi tersebut.

Ia berharap Simeulue tidak hanya semakin dikenal sebagai daerah dengan potensi wisata yang indah, tetapi juga mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakatnya.

“Selamat Hari Jadi Kabupaten Simeulue. Semoga momentum ini tidak berhenti pada perayaan dan seremoni, tetapi menjadi titik penguatan komitmen untuk menghadirkan pembangunan yang nyata, membuka peluang usaha, meningkatkan PAD, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat Simeulue,” tutup Fadlan.

Simeulue maju bukan hanya ketika potensi wisatanya dikenal dunia, tetapi ketika masyarakatnya ikut merasakan hasil pembangunan dan ekonomi daerah terus berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *