BANDA ACEH – Provinsi Aceh mempunyai sejarah panjang dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah, sehingga Negara Indonesia meraih kemerdekaan. Salah satu senjata yang digunakan orang Aceh dalam melawan penjajah adalah rencong. Sehingga, rencong kini sudah dijadikan simbol identitas diri, keberanian, dan ketangguhan masyarakat Aceh.
Salah satu wilayah di Aceh yang masih melestarikan pembuatan rencong adalah Gampong Baet Mesjid, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar.
Dia adalah Yudi Hidayat. Pria berusia 37 tahun ini sejak tahun 1995 silam ia menekuni bidang pembuatan rencong sebagai senjata khas Aceh sejak usia remaja atau 11 tahun dan saat itu Aceh masih didera darurat militer, antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia.
Ia membuat rencong sebagai souvenir atau kenang-kenangan dan juga bisa sebagai benda tajam yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Aceh.
Pada masa konflik bersenjata, rencong sangat laku dan sangat diminati oleh TNI sebagai oleh-oleh khas Aceh, juga sebagai cenderamata yang bisa dipajang di rumah ataupun kantor.
Yudi mengatakan, kegiatan melestarikan budaya Aceh harus terus ditekuninya hingga saat ini sebagai bukti kecintaannya untuk Aceh. Disisi lain ia berpendapat juga untuk membantu ekonomi diri sendiri dan warga sekitar.
“Alhamdulillah dengan menekuni pekerjaan ini, saya dapat membantu membangkitkan ekonomi keluarga dan warga sekitar, dan saat ini saya menjadi distributor rencong di berbagai toko suvenir di Aceh,” kata Yudi saat ditemui, situasi.co.id, Selasa (25/04/2023).
Lebih lanjut, Yudi mengatakan, harga yang terjangkau menjadikan pemilik toko senang mengambil barang darinya. Harganya bervariasi mulai Rp10 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung ukuran dan jenis bahan bakunya.
“Ada juga yang lebih mahal lagi dan itu tergantung pesanan konsumen,” ujarnya.
Cenderamata rencong ini, kata Yudi, banyak diminati oleh orang luar Aceh dan tamu dari mancanegara, seperti Malaysia dan negara tetangga lainnya.
Bahkan, pasca bencana Gempa dan Tsunami melanda Aceh tahun 2004, rencong laris manis karena diminati oleh para relawan asing yang datang ke Aceh.
“Di situlah cenderamata ini semakin terkenal ke berbagai belahan dunia,” jelas Yudi.
Selama menjadi pengrajin dan distributor, Yudi meraih keuntungan sekitar Rp3 juta setiap bulannya. Namun, pada masa serba moderen ini penjualan rencong menurun drastis menjadi Rp1 juta per bulan. Hal ini karena tidak ada lagi tamu-tamu luar yang datang ke Aceh.
“karna tidak ada lagi even-even nasional yang diadakan di Aceh,” ungkap Yudi.
Oleh karena itu, Dia berharap Pemerintah Aceh dapat mengadakan kembali even-even bertaraf nasional dan Internasional dalam mendongkrak perekonomian rakyat.
“saya berharap even-even kembali hadir di Aceh untuk mendongkrak kembali perekonomian warga Aceh yang telah anjlok,” kata Yudi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui Kepala Bidang Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah mengatakan, pihaknya akan membuka ruang bagi pecinta seni kriya salah satunya Rencong Aceh bagi kalangan mahasiswa, pelajar, masyarakat dan perwakilan UKM kreatif.
“Apalagi nanti Disbudpar Aceh akan menggelar PKA ke-8,” kata Nurlaila.
Dikatakannya, pada tahun ini Disbudpar Aceh akan menggelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8, dimana pada pegelaran tersebut menampilkan kekayaan budaya di Aceh berupa atraksi budaya, penampilan kesenian, dan pameran, dan seminar kebudayan.
“Dengan digelarnya acara bergengsi ini diharapkan seluruh pengrajin di Aceh terkhusnya pengrajin Rengcong Aceh dapat menyukseskan acara tersebut,” ucapnya.
Nurlaila juga berharap kepada pemuda Aceh untuk selalu ikut serta melestarikan adat dan budaya Aceh supaya tidak punah. Salah satunya dengan membeli rencong sebagai produk lokal.
“Saya berharap anak-anak mudah aceh ikut serta dalam mendukung dan memasarkan produk-produk Aceh demi membangkitkan perekonomian rakyat Aceh,” pungkasnya.
Sejarah dan Asal Muasal Rencong Aceh
Negeri Serambi Mekkah (Aceh) juga di kenal dengan sebutan tanah rencong. Ini seluruhnya lantaran ada senjata khas Aceh sebagai lambang serta simbol Aceh. Rencong ini digunakan oleh beberapa pejuang Aceh dalam melawan penjajahan bangsa asing dahulu, bukan sekedar pejuang saja yang menggunakan rencong namun juga raja-raja serta golongan bangsawan di Aceh.
Rencong diselipkan dipinggang sisi depan juga sebagai arti siap bertempur sampai darah penghabisan. Tak seperti keris yang digunakan dalam kebiasaan Jawa, keris diselipkan dipinggang sisi belakang serta berkesan disembunyikan.
Saat ini rencong tak akan umum digunakan oleh bangsawan-bangsawan Aceh atau kepala daerah di Aceh, cuma saja rencong digunakan lambang kebiasaan Aceh serta budaya Aceh pada acara kebiasaan perkawinan yang digunakan oleh pengantin laki-laki atau jadi cindera mata ditoko-toko kerajinan tangan.
Sejarah Aceh tidak mencatat dengan cara pasti asal usul rencong senjata mematikan khas Aceh ini, tetapi ada suatu legenda yang menceritakan bahwa dahulu di Aceh ada burung sejenis elang, orang-orang Aceh saat itu menyebutnya ” geureuda “. Burung ini meneror kehidupan orang-orang serta mengonsumsi seluruhnya tanaman, buah-buahan serta ternak juga mati karena itu. Beragam perangkap sudah dipakai untuk menangkap burung ini tetapi tak mempan juga jadi makin gencar lakukan tindakan terornya.
Histori Aceh, Rencong Senjata Mematikan Khas Aceh
Raja juga mengambil aksi dengan menyuruh seseorang pintar besi yang memiliki pengetahuan maqfirat besi untuk bikin senjata ampuh yang dapat membunuh burung itu. Sesudah lakukan puasa, shalat sunat, dan berdoa kehadhirat Allah SWT untuk memberi panduan pada type besi serta logam yang diambil dan senjata yang bakal dia bikin.
Pada akhirnya pintar besi itu membuat sebilah rencong yang mirip tulisan bismillah dalam aksara Arab. Atas basic inilah rencong cuma dipakai dalam jihat fisabilillah dalam memerangi penjajah serta kezaliman di negeri ini.
Rencong mempunyai tingkatan. Pertama, rencong yang dipakai oleh raja atau sultan. Rencong ini umumnya terbuat dari gading (sarung) serta emas murni (sisi belatinya). Ke-2, rencong-rencong yang sarungnya umum terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedang belatinya dari kuningan atau besi putih.
Dalam catatan histori Aceh seseorang pejuang Aceh pernah menewaskan segerombolan serdadu Belanda yang bersenjata komplit cuma dengan sebilah rencong. Momen ini bikin penjajah Belanda sangatlah terpukul serta bahkan juga stress pikirkan perihal peristiwa yang aneh ini.
Inilah penyebab Belanda menyebutkan orang Aceh juga sebagai orang hilang ingatan atau Aceh Pungo. Inilah juga yang jadikan rencong juga sebagai senjata paling mematikan yang pernah ada, sampai tersisa beberapa ribu kuburan Belanda di Aceh.













