SITUASI.CO.ID | SIMEULUE – Laga sengit yang mempertemukan Pelor Lamerem melawan PS Mabaan pada Turnamen sepak bola Lauke Cup I di Kecamatan Simeulue Tengah, Kabupaten Simeulue, hampir ricuh. Sehingga Laga terpaksa di hentikan di babak Pertama pertandingan.
Pelatih Tim PS Mabaan Dinsan, membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, Hal itu dipicu ketika wasit tengah memutuskan PS Mabaan melakukan pelanggaran handball di kotak penalti. Sementara timnya merasa tidak ada hanball sama sekali.
” Bola kena di badan pemain, Penonton di dipinggir lapangan melihat jelas jika bola tidak mengenai tangan pemain,” Kata Dinsan, Pelatih PS Mabaan, Sabtu 25 Juli 2026.
DIinsan, mengatakan wasit tengah tetap kekeh atas keputusannya lalu menghadiahi penalti untuk Tim Pelor Lamerem. Namun PS Mabaan protes, mereka menilai keputusan tersebut tidak sah
“Posisi wasit tengah saat kejadian berada di tengah garis lapangan, di belakang pemain, sehingga tidak melihat kejadian secara utuh. Asisten wasit (hakim garis) juga tidak mengangkat bendera, saksi pertandingan memantau areal gawang juga tidak ada. jadi dari mana wasit tengah tahu itu terjadi tangan(Hanball),” Kata Dinsan.
Dinsan juga mempertanyakan keberadaan saksi pertandingan. Sesuai aturan awal, panitia wajib menyediakan dua orang saksi pertandingan di masing-masing gawang untuk membantu memantau area kotak penalti. Kenyataannya, saksi gawang hanya ada di area Pelor Lamerem, sementara di gawang PS Mabaan kosong.
“Harusnya saksi gawang ada di kedua sisi. Di gawang kami tidak ada. Ini kelalaian fatal, karena turnamen kita tidak memakai teknologi Video Assistant Referee (VAR) untuk membantu tugas wasit,” tegas Dinsan.
Dinsan memastikan pihaknya akan segera mengajukan banding ke panitia penyelenggara turnamen. Surat tersebut tidak hanya menggugat keputusan wasit yang merugikan timnya, tetapi juga kelalaian panitia terkait ketiadaan saksi gawang.
“Kami pastikan akan mengajukan banding, meskipun membayar biaya 1 juta, karena pertandingan kali ini kami dirugikan,” Kata Dinsan
Ketua Panitia Lauke Cup I, Badri Irfan, membenarkan adanya insiden penundaan laga tersebut. Dia mengatakan saat ini pihak panitia sedang menunggu surat pengaduan resmi dari PS Mabaan.
“Benar saat berlaga PS Mabaan Vs Pelor Lamerem, kemarin terjadi sedikit masalah. PS Mabaan menolak keputusan wasit memberikan penalti ke gawang PS. Mabaan,” Kata Badri, Menjawab konfirmasi wartawan Minggu, 26 Juli 2026
Badri, mengatakan keputusan yang telah diambil wasit di dalam lapangan sebenrnya tidak bisa di intervensi. Itu berdasarkan hasil kesepakatan bersama dengan seluruh manajer klub saat technical meeting.
“segala keputusan di lapangan sepenuhnya merupakan kewenangan wasit sesuai dengan hasil technical meeting,” jelas Badri.
Soal rencana PS Mabaan akan melayangkan Aduan kepanitia. Badri mengatakan keputusan akhir bergantung pada hasil musyawarah panitia, apakah aduan dari PS Mabaan diterima atau tidak.
“Nanti akan kita kaji aduan dari PS Mabaan,” Kata Badri
Saat ditanya apakah pertandingan kedua tim akan dilanjutkan atau tidak. Badri mengatakan itu tergantung dari kedua Tim. Jika disepakati untuk dilanjutkan, pertandingan akan meneruskan sisa waktu babak pertama yang tertunda.
“Permainan akan tetap dilanjutkan tergantung kesepakatan kedua tim. Waktu pertandingan yang tersisa sekitar 35 menit lagi,” kata badri
Badri juga meluruskan soal keberadaan saksi pertandingan. Dia mengatakan panitia tidak menyepakati ada saksi pertandingan. Panitia hanya menyediakan personel pengaman.
“Kita tidak ada saksi pertandingan, yang ada setiap sudut lapangan personel pengaman, PAM,” pungkasnya. (RK)













