Mengenal Kopiah Riman Khas Aceh Peninggalan Zaman Sultan Iskandar Muda

proses-pembuatan-kopiah-riman
Proses membuat Kopiah Riman oleh pengrajin kaum wanita. (Istimewa)

BANDA ACEH – Kopiah Riman merupakan peninggalan sejak zaman Sultan Iskandar Muda sebagai bagian dari pakaian kebangsawananan masyarakat Kabupaten Pidie. Kopiah Riman sempat redup. Namun, kembali digalakkan pada tahun 1985 hingga saat ini.

Awal mula kerajinan Kopiah Riman dibuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan Kopiah Riman meningkat. Sehingga, mampu memproduksi lebih banyak Kopiah. Hingga saat ini, Kopiah Riman masih cukup terkenal dilapisan masyarakat Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal mengatakan, bahwa Kupiah Riman merupakan karya seni anak negeri sarat muatan filosofi lokal genius serta membuktikan kesenian Aceh tidak stagnan dalam membentuk identitas kebudayaan.

“Banyak karya-karya seni anak negeri yang sarat muatan filosofi lokal genius dan juga membuktikan bahwa kesenian kriya Aceh tidak stagnan dalam membentuk identitas kebudayaan, namun tetap terikat pada keagungan budaya masa lampau,” kata Almuniza, saat di Ruang Rapat, Senin (17/04/2023).

Almuniza menjelaskan, mengapa disebut sebagai Kopiah Riman, karena sejatinya Kopiah ini berasal dari serat pohon riman yang pada masa itu tumbuh subur. Seiring perkembangan zaman, keberadaan pohon riman mulai langka.

“Karena langkah, para pengrajin menggantinya dengan pohon aren yang memiliki struktur yang hampir mirip,” jelasnya.

Kopiah Riman
Kopiah Riman yang sudah siap diolah. (Istimewa)

Senada halnya dikatakan, Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah menyebutkan, Kupiah Riman merupakan kerajinan yang mempunyai nilai estetika sangat tinggi.

BACA JUGA:   Disdik Nagan Raya Terus Kembangkan Seni Budaya Daerah Bagi Pelajar SD, SMP

“Kesenian Aceh tentunya memiliki nilai estetika yang sangat tinggi,” kata Nurlaila saat ditemui di ruang kerjanya, , Selasa (18/04/2023).

Oleh sebab itu, tambahnya, Kopiah Riman menjadi salah satu indikasi dan tentunya perlu bersama-sama seluruh masyarakat untuk selalu menjaga dan mengembangkan serta mengangkat eksitensi kesenian Aceh khususnya Kopiah Riman,” harap Nurlaila.

Lanjut Nurlaila, apresiasi dunia luar terhadap kesenian Aceh semakin meningkta. Oleh karena itu, perlu terus dipertahankan oleh pelaku kesenian, agar dapat selalu mengembangkan karya seni dan bangga dengan keseniannya.

“Sebagai bentuk dukungan agar kesenian Aceh tetap eksis, Disbupar Aceh terus memberikan dukungan kepada pengrajin dengan melaksanakan festival, perlombaan dan ajang pertunjukan. Terlebih lagi salah satu even yang paling bergensi telah ada didepan mata yakni PKA-8 yang akan digelar pada Agustus mendatang, maka generasi muda dapat ikut serta dalam berbagai perlombaan seni dan budaya,” pungkas Nurlaila.

Seniman Kriya, Rahmad Syah Nosfy berharap kepada pemerintah melalui Dinas terkait untuk membentuk tempat pelatihan khusus bagi para perajin Kopiah Riman dan fokus mendidik para pemuda. Apalagi, menurutnya, bahan baku kriya di Aceh tergolong sangat mudah ditemui dan didapatkan.

“Nanti setelah dididik dan memperoleh sertifikasi, para seniman kriya memperoleh sertifikasi sehingga bisa dipergunakan untuk bekerja dimana saja, serta mampu menghasilkan produk-produk kriya yang bisa dipasarkan secara luas,” ungkap salah satu seniman Aceh itu.

BACA JUGA:   Balai Pengajian di Aceh Barat Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp20 Juta

Salah satu pengrajin Kopiah Riman, Umi Tazmiati, mengatakan bahwa, Kopiah terbuat menggunakan bahan baku yang serat dengan ijuk. Kemudian, serat ijuk tersebut disulam secara manual untuk membentuk berbagai motif dan ukuran yang berfariasi.

“Serat yang sudah diolah direndam dalam larutan lumpur dan daun pewarna yang sudah ditumbuk, kemudia dicuci dan dijemur. Serat yang sudah kering kemudian digunakan sebagai bahan baku pembuatan kupiah riman ,” katanya.

Proses Pembuatan Kopiah Riman yang Unik

ijuk
Bahan Baku Serat Ijuk Untuk Pembuatan Kopiah Riman. (Istimewa)

Proses membuat kerajinan tradisional khas Aceh ini tak lepas dari kerja sama antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Kaum laki-laki bertugas mencari batang pohon yang tumbuh liar di sekitar desa. Sedangkan kaum perempuan akan melanjutkan proses pembuatan, yang mulai dari para gadis hingga ibu rumah tangga.

Sebelum diolah, serat pohon aren harus dipilih terlebih dahulu. Kemudian, serat tersebut direndam dalam larutan lumpur dan daun pewarna yang sudah ditumbuk. Setelah itu, serat pohon aren dicuci kemudian dijemur.

Apabila serat pohon aren sudah kering, barulah digunakan sebagai bahan utama untuk membuat kopiah riman.

Untuk pengerjaan sebuah Kopiah Riman, biasanya memakan waktu 2-3 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *