SITUASI|Simeulue – Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Bulan Bintang (DPC PBB) Kabupaten Simeulue, Marwan, menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas peristiwa serangan buaya muara yang menimpa seorang warga Desa Bulu Hadik, Kecamatan Teluk Dalam, pada Minggu (15/2/2026).
Marwan mengatakan, kemunculan buaya di wilayah Simeulue bukanlah kejadian baru. Dalam beberapa tahun terakhir, satwa liar tersebut kerap terlihat di sejumlah lokasi dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
“Peristiwa kemunculan buaya sudah beberapa kali terjadi, di antaranya di Jembatan Ladon Simeulue Tengah, Amaibaan, Desa Babul Makmur, Danau Laut Tawar, serta beberapa titik lainnya,” ujar Marwan kepada wartawan, Senin (16/2/2026).
Ia menilai, meningkatnya frekuensi kemunculan buaya muara harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya instansi terkait yang memiliki kewenangan di bidang lingkungan hidup dan konservasi satwa.
Marwan meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Simeulue agar tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengantisipasi dan menghindari potensi serangan satwa liar tersebut.
“DLH harus bergerak cepat dan aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Keselamatan warga harus menjadi prioritas, terutama bagi mereka yang beraktivitas di laut maupun di sungai,” tegasnya.
Selain itu, Marwan juga mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berwenang menangani satwa dilindungi, untuk segera turun langsung ke Kabupaten Simeulue guna melakukan peninjauan lapangan serta mengambil langkah antisipatif.
“Kami menghimbau BKSDA Aceh agar segera turun ke Simeulue untuk melihat kondisi di lapangan dan memberikan solusi konkret. Mengingat populasi buaya yang semakin sering muncul, diperlukan langkah penanganan yang tepat agar tidak membahayakan masyarakat,” katanya.
Menurut Marwan, keberadaan buaya muara telah menimbulkan rasa takut di kalangan warga, khususnya mereka yang menggantungkan hidup dari aktivitas di laut dan sungai. Bahkan, sebagian warga terpaksa beralih profesi karena khawatir terhadap ancaman serangan.
“Peristiwa ini menjadi persoalan serius bagi masyarakat pesisir dan bantaran sungai. Banyak warga yang terpaksa meninggalkan mata pencaharian mereka karena takut dengan ancaman buaya,” tutup Marwan.
(RK)













